yongganas ganas yongganas ganas Author
Title: Tokoh Pendidik Bergaya Petinju Jadi Urusan Polisi
Author: yongganas ganas
Rating 5 of 5 Des:
Edi Persadanta PA Isa Beru Sembiring Stabat- News Metro Langkat Seorang ibu rumah tangga, Isa Br Sembiring, warga Dusun Ba...
Edi Persadanta PA
Isa Beru Sembiring












Stabat- News Metro Langkat

Seorang ibu rumah tangga, Isa Br Sembiring, warga Dusun Bandar Tinggi Kelurahan Batang Serangan Kabupaten Langkat, masih terheran-heran ternyata bvukan hanya preman saja yang gemar main kekerasan.

Sebab di kampungnya ada juga tokoh pendidik yang juga Ketua Yayasan Tunas Bangsa Bandar Pulo,  Maulana Sembiring, yang bergaya preman karena tega memukul siswa di tempatnya belajar di SMP Swasta Tunas Harapan Bandar Pulo. Hal ini disampaikan oleh Isa Br Sembiring didampingi suaminya Andreas Sukatendel saat berkunjung ke Kantor Metro Langkat untuk menyampaikan masalah tersebut.

Ibu dari empat anak ini menilai sikap Maulana sungguh sangat tidak mencerminkan sikap seorang tokoh pendidik yang sabar, mengayomo murid, dan jauh bdari sifat kekerasan. Karena watak dasar seorang pendidik ini sudah tidak melekat jauh di batin Maulana, sebaiknya dia harus mundur dari aktivitasnya sebagai pemimpin di yayasan itu.

“Ngapain dia di situ kalau enggak sabar menghadapi murid yang dinilai melakukan keslahan. Kalau setiap ada siswa yang salah main gebuk, itu namanya bukan tempat siswa belajar menuntut ilmu, tapi sudah berubah jauhg menjadi ring tinju. Tugas pendidik memang berat, tapi kalau tak mampu silakan mundur,” kata Isa Br Sembiring.

Isa Br Sembiring sendiri telah melaporkan Maulana Sembiring ke Polres Langkat akibat bergaya preman tersebut. Sebab anaknya yang paling bungsu, Edi Persadanta Perangin-angin, 14 tahun, siswa kelas tiga SMP di sekolah milik yayasan tersebut telah dianiaya oleh Maulana pada 23 November lalu.

Kemarahan Maulana berawal saat siswa di sekolah tersebut sedang jam istirahat, tiba-tiba melihat Edi Persadanta sedang duduk di meja kelasnya. Maulana seketika mendatangi anak itu dan menegurnya dengan marah seraya melancarkan beberapa kali pukulan ke arah kepala dan perut Edi Persadanta.  Saat itu, meski Edi sudah meronta-ronta kesakitan dan mencoaba menahan pukulan tersebut dengan kedua tangannya, tapi Maulana yang mengenakan cincin berbatu di jarinya cuek saja.  

Setelah usai melancarkan tinjunya, Maulana menyuruh Edi Persadanta pulang ke rumahnya. Kebetulan saat itu ibunya Iasa Br Sembiring dan ayahnya Andreas Sukatendel kebetulan sedeng berada di kebun. Lalu anaknya memberitahukan kejadian itu lewat telepon genggam. Mendengar ini, Isa dan suaminya segera bergegas pulang.

Setiba di rumah, keduanya kaget bukan kepalang lantaran kondisi anaknya Edi sudah demam panas seraya terus muntah-muntah. Untuyk perawatan selanjuntnya, keduanya lalu melarikan anaknya ke Rumah Sakit PTPN II di Tanjung Selamat untuk mendapatkan pertolongan. Edi baru dibolehkan pulang setelah mendapatkan perawatan selama sepekan.

Sementara itu Isa Br Sembiring dan suaminya Andreas terpaksa harus melaporkan kejadian itu ke Polres Langkat karena tidak terima dengan tindakan Maulana pada 25 November. Isa sangat sakit

hati kok tega-teganya Maulana yang juga adalah tetangganya di kampungnya sampai hati memukuli anaknya sekejam itu. Makanya, meski Maulana berupaya melakukan pendekatan untuk berdamai, tapi Iosa dan suaminya tetap menolak.

Bagaimanapun perbuatannya harus diproses hukum oleh polisi hingga ke pengadilan. Sebab perbuatan itu sangat tidak patut dilakukan moleh tokoh pendidikan. “Biarlah kejadian ini menjadi pelajharan bagi pendidik yang lain agar jangan gampang ringan tangan menghadapi siswa SMP yanjg boleh dibilang masih anak di bawah umur.

Berdasarkan hasil visum yang dikeluarkan oleh pihak Rumah Sakit PTPN II Tanjung Selamat, bagian leher korban Edi Persadanta mengalami merah dan bengkak.

Menurut Isa, pihak Polres Langkat memang telah menangani perkara itu dengan memeriksa sejumlah saksi-saksi. Dan berikutnya akan melanjutkan perkara itu kepada pihak Kejaksaan setelah menjalani penyidikan selama 60 hari. Tapi Isa tidak merasa puas karena Maulana tidak dikenakan penahanan oleh polisi.

“Aku tak bisa banyak komentar. Kalau yang memukul tadi itu preman atau orang jalanan, lain masalahnya. Tapi seorang pendidik beda dengan preman dan karenanya harus diperlakukan lebih berat agar menjadi pelajaran bagi tenaga pendidik yang lain,” ucap Isa Br Sembiring.(fan)    
Reaksi:

About Author

Advertisement

Post a Comment

 
Top