yongganas ganas yongganas ganas Author
Title: Berburu Nilai Jujur Dihutan Rimba Pendidikan
Author: yongganas ganas
Rating 5 of 5 Des:
Berburu nilai Jujur.(Ilustrasi) Jakarta- News Metro Langkat Beburu hewan liar seperti babi hutan...
Berburu nilai Jujur.(Ilustrasi)



Jakarta- News Metro Langkat

Beburu hewan liar seperti babi hutan atau rusa di hutan rimba sudah sering kita dengar. Tapi di hutan rimba pendidikan, berburu nilai IPK yang jujur apakah penting untuk disuarakan?

Suatu kali saya pernah mengingatkan seorang yang dengan setulus hati membantu mengerjakan skripsi sesama teman kuliahnya. Baik itu memberi contekan ujian atau mengerjakan tugas-tugas kuliah sekaligus skripsi teman hati-hati loh! Kamu harus siap kecewa kalau di saat acara wisuda nanti ternyata malah teman-teman yang mendapat nilai IPK lebih tinggi dari kamu.

Dan pada saat acara wisuda datang apa yang pernah saya ingatkan kepada teman saya itu menjadi kenyataan. Teman saya mendapat bangku kursi wisudawan urutan nomor dua dari belakang yang artinya dia mendapat nilai IPK nomor dua paling bawah. Sementara semua teman-temannya yang selama kuliah dibantu tugas-tugas kuliahnya dan dibantu pula mengerjakan skripsi dari nol justru mendapat IPK paling tinggi.

Yang lebih menyakitkan lagi semua teman-temannya itu justru tenggelam dalam ephoria merayakan kelulusan dengan nilai yang lebih tinggi darinya. Saya yang menyaksikan acara wisuda itu spontan jadi teringat lirik lagu Iwan Fals “Menangis orang tua, lihat anaknya bangga” Padahal saya tahu persis waktu wisuda beliau-beliau itu teramat sangat menggantungkan kelancaran studinya selama kuliah dengan teman saya.

Tak ada satupun dari teman-temannya itu yang punya nurani untuk datang menunjukkan sikap empati atau sekedar pernyataan maaf kalau nilainya ternyata lebih tinggi dari nilai IPK teman saya. Dan yang paling menarik menurut saya, dosen-dosen di kampus itu pasti sudah buta matanya tidak bisa membedakan mana mahasiswa yang pintar.

Apalah arti sebuah nilai kawan? Dalam suatu kesempatan saya bertemu lagi dengan teman saya yang merasa diperlakukan tidak adil secara penilaian oleh perguruan tinggi tersebut. Nilai IPK lebih dapat dipertanggungjawabkan kawan daripada nilai IPK teman-temanmu itu. Beliau menjawab ya, saya memang berpikir seperti itu.

Saya memang ada sedikit rasa kecewa dan itu natural karena merasakan ada ketidakadilan. Tapi di luar semua itu, saya tetap berjalan lebih tegak dibandingkan mereka. Karena saya bisa mempertanggungjawabkan nilai saya yang lebih rendah. Begitu pendapatnya.

Apalah arti sebuah nilai kawan? Dalam lingkup lain kenyataannya nilai yang tinggi juga menjadi sebuah ajang euforia di media sosial. Ucapan demi ucapan selamat kelulusan dengan nilai IPK yang sangat memuaskan memenuhi status Facebook.

Hanya teman saya sendiri yang tidak berminat tenggelam dalam euphoria merayakan kelulusan wisuda. Dia berpikir perjuangan ini belum selesai. Nilai yang diterimanya sekarang ini hanya sebagian kecil dari proses kedepannya yang dia impikan.

“Aku akan melanjutkan kuliah lagi!” Katanya. Saya begitu kagum dengan semangat teman saya yang satu ini. Ketika teman-teman kuliahnya yang nilai IPK-nya tinggi berkata sudah cukup dan tidak sanggup lagi untuk berjibaku mengenyam dunia pendidikan, sebaliknya dia tetap on the track berjalan di atas keyakinannya bahwa semua yang dilakukan bukanlah semata untuk sebuah nilai. Lebih dari itu dia bermimpi kelak dengan ilmu yang dipelajarinya bisa memberi manfaat bagi orang banyak.

Jika ada mahasiswa atau pelajar berpikir kalau nilai ujian akhir adalah segalanya. Simbol gengsi dan simbol penentu siapa yang menang dan siapa yang kalah rasanya opini ini kurang tepat dan bisa saja menyesatkan. Jika pikiran seperti itu yang tertanam bisa jadi mahasiswa atau pelajar akan mengenyampingkan bagaimana proses sampai memperoleh nilai tersebut.

Karena, bagaimana proses dalam memperoleh nilai ilegal tersebut jelas-jelas sangat tabu untuk dibicarakan di ruang acara wisuda. Nilai yang bisa dibeli, nilai dari hasil ilmu menjilat tingkat tinggi, nilai dari hasil oknum kampus jualan soal ujian, nilai dari seberapa besar mahasiswa sanggup memberi upeti kepada dosen.

Ungkapan dalam hidup itu harus pintar-pintar sangat tepat digunakan untuk mensiasati nilai dalam dunia pendidikan. Oleh karena itu wajar saja jika di akhir cerita umumnya mereka yang mendapatkan nilai palsu tidak terlalu memperdulikan bagaimana caranya dalam memperoleh nilai. Yang penting selanjutnya memikirkan bagaimana agar masa depan selamat dan bisa hidup sukses.

Sulitkah berburu nilai yang jujur di dunia pendidikan Indonesia? Jika saya menunjuk pertanyaan ini kepada diri sendiri jelas rasanya malu sekali. Oleh karena itu sewaktu wisuda dulu saya memilih tidak mengikuti acara wisuda karena saya merasa tidak jujur dengan nilai yang saya peroleh. Ya bisa di bilang nilai saya ada nilai bajingannya dan ada pula nilai putus asa seperti pengalaman yang pernah dialami oleh teman saya di atas.

Pertanyaannya sepenting apakah nilai yang jujur itu kita buru? Sepenting apakah nilai yang jujur itu dibawa oleh kita seumur hidup? Ini dikembalikan kepada pendapat masing-masing karena dalam tulisan saya ini tak lebih tak kurang untuk intropeksi dunia pendidikan di Indonesia.
(ded/ded)

About Author

Advertisement

Post a Comment

 
Top