yongganas ganas yongganas ganas Author
Title: Sindiran Untuk Bupati Langkat, Warga Tanam Pisang di Tepi Jalan Longsor. Mana Lebih Dulu, Pasang Bronjong, atau Pisang Berbuah.
Author: yongganas ganas
Rating 5 of 5 Des:
 Stabat-News Metro Langkat Masyarakat di Desa Telagah, Kecamatan Sei Bingei, Kabupaten Langkat, kini jantungan setiap hari. Mereka khawati...


 Stabat-News Metro Langkat

Masyarakat di Desa Telagah, Kecamatan Sei Bingei, Kabupaten Langkat, kini jantungan setiap hari. Mereka khawatir kalau-kalau tepi jalan yang , longsor di kampung mereka sewaktu-waktu  akan  amblas. Sebab kondisi jalan yang juga menuju ke kampung Wakil Walikota Bainjai Timbas Tarigan itu masih berantakan, tapi  entah mengapa sudah ditinggalkan pemborongnya sekitar dua pekan lalu.

Kepergian pemborong tersebut membuat warga putus harapan dan hanya bisa berdoa semoga Bupati Langkat H Ngogesa Sitepu SH, terketuk hatinya agar bisa mendorong Dinas Bina Marga Sumut untuk secepatnya memperbaiki bencana longsor itu.

 Makanya untuk menyindir Bupati Langkat tersebut, mereka menanam pohon pisang di tepi jalan yang longsor  beberapa waktu lalu. “Sindirannya, apakah lebih dulu tumbuh pisang atau pemasangan bronjong,” kata Darma Sembiring warga Desa Telagah.

Darma Sembiring dan para warga desa Telagah pantas uring-uringan. Sebab lokasi jalan yang longsor itu sudah dua kali terjadi. Mereka heran, masak jalan longsor yang sudah ditimbun dan dipasang bronjong bisa amblas lagi hanya dalam waktu sekitar tujuh bulan.  Lebih celaka lagi, setelah tepi jalan yang sama kembali longsor, hanya diperbaiki setengah jalan karena kini  dibiarkan saja terlantar.

Bencana longsos pertama kali terjadi pada awal November tahun 2015 lalu. Panjang jalan yang amblas baru sekitar 16 meter saja. Reaksi Dinas Bina Marga Sumut waktu itu cukup cepat untuk membenahi jalan tersebut. Masyarakat setempat pu sempat lega setelah jalan dipasang bronjong dan ditimbun dengan tanah.   

Namun, mereka kembali dikagetkan karena bencana yang sama kembali terjadi sekitar tiga bulan lalu. Kali ini panjang tanah yang amblas sekitar 34 meter. Namun karena hingga lebih sepekan belum ada perbaikan, maka tanah yang amblas bertambah menjadi 60 meter. Masyarakat kalang kabut karena dua ting listrik dekat lokasi longsor sudah nyaris tumbang. Khawatir bisa menimbulkan bahaya maut bagi anak-anak atau warga yang terkena sengatan, maka warga melapor ke PLN dan selanjutnya bersama-sama memindahkan tiang listrik tersebut. 

Perbaikan jalan berlangsung dua pekan kemudian oleh CV BAL dari Binjai. Sedikitnya RP 790 juta dana bersumber dari APBD Pemprov Sumut untuk perbaikan jalan tersebut. Alat berat beko pun diturunkan ke dasar tebing tanah yang lonsor. Kerjanya meratakan tanah untuki dijadikan tempat pemasangan bronjong.

Darma Senbiring ikut mengucurkan dana untuk modal membeli material yang diperlukan. Sejumlah tukang pun disiapkan oleh pengusaha bengkel di kampung tersebut. Para  penusaha truk juga mundar-mandir mengangkut bahan material tersebut. Tidak heran kalau kedai makanan dan penjual air mineral di dekat tanah longsor itu laku keras.

Sayangnya, setelah sebulan kemudian wajah pemborong sudah tak kelihatan lagi bekerja di lokasi bencana. Yang ada hanya beko yang teronggok begitu saja. Warga yang mulai pening karena utang pembelian materil, upah, tukang, dan sebagainya belum dibayar oleh sang pemborong, masih sempat terbuai lantaran ada onggokan beko itu. “Akh, kan masih ada bekonya, pastilah balik lagi pemborong melanjutkan pekerjaannya,” kata Darma Sembiring.

Namun hari demi hari hidung si pemborong enggak nongol-nongol. Akibatnya Darma Sembiring dan beberapa warga lainnya yang merasa dirugikan seperti David Ginting, mencoba menemui sang toke di kantornya di Bnjai. Hasilnya nol besar.

Darma Sembiring mengaku telah mengalami kerugian Rp 180 juta yang digunakan untuk membeli kebutuhan material dan membayar upah 40 orang tukang. Sementara utang dikedai makanan dan sejumlah galon air mineral untuk kebutuhan tukang masih belum dibayar. “Dibayar pakai apa, duit sudah habis. Kalau ada email ke Tuhan sudah aku adukan utang yang belum dibayar itu,” katanya kesal.

Kepala Desa Telagah, Suranta Sitepu, juga ikut sedih dengan  nasib jalan longsong yang terlantar itu. Masalahnya, kalau sampai jalan itu putus, maka hasil pertanian penduduk seperti buah sawit, bambu, karet dan sebagainya akan terancam  tidak terangkut. Jalan alternatif bisa lewat Kabupaten tanah Karo yang menyebabkan jarak tempuh makin jauh.

Ujung-ujungnya harga hasil pertanian sekitar 2500 penduduk Desa Telaga jadi jatuh. Sebab hasil pertanian tersebut biasanya ke Binjai hingga ke daerah Langkat sekitarnya bisa ditempuh sekitar beberapa jam saja. Bila sampai lewat jalan alternatif bisa lebih setengah hari.

Kades Suranta Sitepu jua enggak mengerti mengapa jalan masih longsor sudah dibiarkan terlantar. Kondisi makin kritis, katanya, karena sebagian badan aspal sudah ada yang mulai retak tinggal menunggu amblas. Karena itu dia minta semua pihak yang terlibat dalam perbaikan segeralah bertindak. Jangan sampai jatuh korban. Masalah itu sudah dilalproan secara tertulis kepada camat dan Pemkab Langkat.
Reaksi:

About Author

Advertisement

Post a Comment

 
Top