yongganas ganas yongganas ganas Author
Title: PERGURUAN JAMAIYAH MAHMUDIYAH : Metropolitanisasi Pendidikan Kesultanan Langkat awal abad-1
Author: yongganas ganas
Rating 5 of 5 Des:
Oleh Muhammad Fadli* Fadli Arbi Puncak tertinggi dari sebuah peradaban kota adalah terbentuknya masyarakat berkesadaran dan berk...


Oleh Muhammad Fadli*

Fadli Arbi


Puncak tertinggi dari sebuah peradaban kota adalah terbentuknya masyarakat berkesadaran dan berkeadaban (civil society), yang ditandai dengan berdirinya institusi pendidikan dan tumbuh berkembangnya kultur ilmiah sebagai pendukung transformasi sosial pada masyarakatnya. Kondisi yang pernah dirasakan oleh masyarakat Islam diabad 7-13, masyarakat Eropa diabad-18, dan masyarakat Melayu Langkat di awal abad-19. Konteks masyarakat berkmajuan tersebut oleh filsuf Jerman, Jurgen Habermas, diistilahkan sebagai miniatur kosmopolitan ruang publik (public sphere). 


Pada 1912 atau di awal abad-19, gelombang perubahan dunia yang cepat, disadari oleh Sultan Tengku Abdul Aziz Abdul Jalil Rahmadansyah Al Haj sebagai sebuah keharusan. Pandangan sultan yang visioner itu diperkuat oleh para cendikiawan dan ulama-ulama terkemuka Langkat lainnya, yang melihat pentingnya untuk mendirikan sebuah institusi pendidikan, berdampingan dengan Kesultanan Langkat. Pada 22 Muharram 1330 H atau 31 Desember 1912, berdirilah dengan kokoh Al-Jamaiyah Al-Mahmudiyah At-Thalabil Al-Khairiyah mulai dari SD sampai SMP, model pendidikan agama dan umum yang keluar dari sekat-sekat pendidikan Belanda yang dikotosmistik.

Pilar Kesultanan Langkat di wilayah Timur yang disanggah kampung spiritual At-tarikah An-na’sabandiyah Al-khalidiyah, dipunggawai ulama kharismatik Syeikh Abdul Wahab Rokan dan di wilayah Selatan disanggah oleh institusi pendidikan Al-Jamaiyah Al-Mahmudiyah At-Thalabil Al-Khairiyah, menjadikan Kesultanan Langkat sebagai miniatur kota pendidikan paling modern pada masanya.

Konfigurasi spiritual dan pendidikan, mengapit altar  istana Kesultanan Langkat, merepresentasikan kosmopolitanisme Langkat masa lalu yang megah, modern, spiritual, sekaligus metropolis.  

Pada awal abad-20, Kesultanan Langkat mentasbihkan diri bukan saja miniatur kesultanan modern bercorak kosmopolitan, melainkan rahim kota tempat mempersiapakan bibit-bibit ulama unggul dan para cedikiawan melalui institusi pendidikannya.

Pada masa pemerintahan kesultanan Abdul Aziz Abdul Jalil Rahmadansyah Al Haj, kian kokohlah eksistensi Langkat sebagai metropolitanisasi spiritual sekaligus pendidikan yang menjadi kiblat para siswa dari berbagai daerah datang menimba ilmu bahkan dari negeri tetangga.


Metropolitanisasi Masyarakat Langkat abad-19
Dalam sejarah panjangnya itu, Kesultanan Langkat membuat banyak trobosan atau inovasi. Puncak kejayaan pada masa Sultan Abdul Aziz Abdul Jalil Rahmadansyah Al Haj dimana sebuah kesultanan kecil begitu makmur dan maju secara spiritual, budaya, sosial, ekonomi dan pendidikan. Puncaknya ditemukannya sumber minyak di Berandan pada 1886, oleh seorang bangsawan Belanda, Aeilko Jans Zijlker.

Berdirinya perguruan Jamaiyah seolah mempertegas sikap dan dukungan sultan terhadap pentingnya lembaga ilmu pengetahuan sekaligus representasi simbolik kayanya pengetahuan dan pengalaman sultan-sultan Langkat memandang dunia global dan perkembangannya yang diwarnai rekayasa pengetahuan yang memukau pada abad-18.

Fakta itu dapat dilihat dari corak arsitektural Masjid Azizi yang dibangun melalui perpaduan kombinasi Timur Tengah dan desain Eropa modern, serta bangunan-banguna klasik yang masih tersisa dipusat Tanjung Pura.


Pertanyaan yang perlu diajukan disini: mengapa seolah tidak ada peran intelektual kelahiran rahimnya yang mampu mendinamisasikan atau mendialektikakan gagasan Sultan Abdul Aziz Abdul Jalil Rahmadansyah Al Haj? Mengapa studi pemikiran tokoh hebat ini dapat dihitung dengan jari dan sumber-sumber tertulis yang ada tidak terlalu representative? Mengapa di Langkat tidak satupun berdiri universitas megah, padahal Pertamina pertamakali lahir dari bumi Berandan, yang justru masyarakat diskitar tertinggal dari segala aspek?  Gagasan pendidikan yang diusung oleh Sultan Abdul Aziz Abdul Jalil Rahmadansyah Al Haj, seolah mengendap seiring hancurnya Kesultanan Langkat pada awal abad-20, membawa ikut serta “terkuburnya” cita pengetahuan yang digagasnya.


Budayawan Zainal AK (2016), meski tidak memiliki core spesifik dalam bidang sejarah atau Prof. Johar Arifin Husain (2011), yang memiliki core keilmuan studi arsiktural pembangunan tata ruang kota; ulasan keduanya mengenai Tengku Amir Hamzah dan sejarah Langkat masih terlihat naratif, daripada menyuguhkan fakta-fakta conditio-rational.

Meski demikian, keduanya dapat menjadi pintu masuk untuk menelusuri lebih jauh gagasan genuine Sultan Abdul Azizz Abdul Jalil Rahmadansyah al-Haj yang progresif itu. Sulit membayangkan kondisi Langkat pasca agresi Belanda dan revolusi sosial 1946, atau tepatnya memasuki usia di atas 70 tahun.

Dalam usianya yang lebih setengah abad itu, kedua cendikiawan di atas yang terlihat mendokumentasikan Langkat, tokoh, dan sejarahnya.  

Lemahnya referensi mengenai Kesultanan Langkat menjadi presenden buruk berkepanjangan bilamana gagas dan gugus episteme pengetahuan tokoh tak terdokumentasi, meski peneliti seperti Anthony Reid telah mendemonstrasikan kehancuran Kesultanan Langkat dalam karyanya The Blood of The People; Revolution and the End of Traditional Rule in Northern Sumatera, (1979).

Reid memang mengulas panjang lebar proses terjadinya revolusi sosial berdarah di Langkat, namun tak menyentuh inovasi-progresif gagas dan gugus pendidikan yang diusung oleh Kesultanan Langkat pada masa itu. Kekososngan inilah yang semestinya ditangkap oleh kalangan terdidik lainnya di Langkat terutama dari lingkungan akademik Jamaiyah.


Kondisi demikian diperparah oleh situasi peninggalan sejarah kerajaan yang tak lagi terpelihara baik sebagai aset pemerintahan daerah. Ketidak hadiran Negara dalam hal ini—pemerintah daerah—kiranya mempertegas sikap mereka yang a-historis itu.

Ada beberapa alasan melatarinya: Pertama, kesulitan mengumpulkan sisa keturunan Sultanan Langkat yang masih hidup dan bercerai-berai pasca revolusi sosial Maret 1946. Kedua, dana untuk rehabilitasi Kesultanan Langkat memakan biaya yang cukup besar. Tentu saja pemerintah daerah tidak menginginkan hal tersebut terjadi. Disamping memang alokasi anggaran itu tak pernah jelas keberadaannya.

Jangankan untuk merehabilitasi, untuk memvugar makam pahlawan nasional Tengku Amir Hamzah saja sampai saat ini tak jelas realisasinya. Ketiga, kondisi kian diperparah karena tidak pernah tampil atau terbatasnya kehadiran keturunan Sultan Langkat di ruang publik dan mendokumentasikan apa yang terjadi sebenarnya pada 1946 itu.

Betul, ada beberapa bagian yang terdokumentasi namun tidak utuh. Keempat, kemungkinan lain, trauma yang masih menyelimuti sisa-sisa keluarga Kesultanan Langkat. Kelima, tekanan politis dari pemeritah berkuasa agar keturunan ini tidak lagi dapat eksis diranah politik atau diruang publik. Keenam, masih kuatnya streotype feodal-elitisme keluarga Kesultanan Langkat menghinggapi nalar sebagian kalangan generasi baru Langkat saat ini.  


Ironisnya, ad-hominem di atas seolah tak tersentuh oleh institusi Jamaiyah untuk meluruskan pristiwa sejarah itu melalui kacamata akademis yang lebih objektif. Mahasiswa disekolah tinggi Jamaiyah semestinya berperan aktif menggali gagasan brilian Sultan Abdul Aziz Jalil Rahmadansah al-Haj—meski secara kelembagaan—institusi Jamaiyah mengalami perubahan seiring modernisasi pengetahuan yang menyentuh sendi-sendi institusi, meski spirit modernisasi menjadi ruh berdirinya institusi tersebut.

Penulis dapat memaklumi situasi di atas, namun isntitusi yang bergerak diranah pengetahuan sudah semestinya memiliki kemampuan eksis karena watak alamiah pengetahuan yang berorientasi nilai sulit dikendalikan oleh penguasa sekalipun.

Watak egaliter dan partisipatoris yang digagas oleh sultan besar Langkat di atas perlu digali sebagai lokutif episteme pengetahuan agar tetap aktual sebagai sebuah konsep, epistemologi, dan tawaran paradigma pendidikan alternatif yang genuin.

Dengan kata lain,  kekayaan intelektual sebagai sebuah warisan tidak boleh hancur bahkan harus terus hidup dan dihidupkan guna mewarnai dinamika berjalannya gerbong sejarah. Selangkah lebih maju, Malaisya dan Brunai Darussalam terus bergiat mengokohkan episteme pengetahuan intitusi pendidikan mereka menjadi pusat kemelayuan global sekaligus penegas nation identity.


Sultan Abdul Aziz; Sintesis Spiritual ke Gerakan Pengetahuan
Kesultanan Langkat sangat beruntung melahirkan sultan-sultan dari rahimnya yang memiliki kecintaan tinggi pada seni, ilmu pengetahuan, agama, dan kebudayaan.

Marsden dalam salah satu bab karyanya; Langat (1983), mengisahkan bagaimana kecintaan Sultan-sultan Melayu Langkat klasik yang diapit dua kerajaan besar yakni; Aceh di Utara dan Siak di Timur, memiliki perhatian khusus terhadap seni dan pengetahuan.

Bahkan proses awal islamisai kerajaan terjadi berkat pendekatan literal-dialektik Islam progresif. Artinya, literasi pengetahuan terlebih dahulu menyentuh singgasana kesultanan daripada ekspansi senjata yang selama ini banyak ditulis oleh para sejarawan status-quo (melihat sejarah melalui sudut pandang kekuasaan).


Dengan kata lain, konteks dinamisasi Islam yang masuk ketubuh Kerajaan Langkat klasik lebih diinisiasi melalui sistem pengetahuan dan seni yang lebih mudah diterima oleh elit-elit kesultanan.

Maka menjadi benar adanya bahwa fakta Kesultanan Langkat bukanlah tipikal kesultanan yang mengkonsetrasikan kekuatan pada pemusatan militer sebagai basis utama pembangunan dan perlindungan wilayahnya, sebagaimana kesultanan-kesultanan lain di tanah air.

Konteks di atas seolah mempertegas tesis, runtuhnya Kesultanan Langkat lebih dikarenakan tidak adanya konsentrasi pemusatan kekuatan militer yang dapat melindungi kerajaan dari agitasi sekelompok massa yang mengatasnamakan revolusi Maret 1946.


Sepeninggal Sultan Abdul Aziz Rahmadansah al-Haj dan gejolak revolusi proletariat yang menumbalkan ribuan nyawa elit dan masyarakat Langkat, serta hancurnya infrastruktur kesultanan menjadi pukulan telak, disamping menyusul robohnya sebuah tonggak peradaban pengetahuan itu sendiri.

Bagaimana sebuah kesultanan yang dibangun di atas episteme pengetahuan dan kekayaan spiritual berhadapan dengan agitasi massa provokatif yang bersenjata lengkap? Puing sejarah masalalu itu seolah menguak satu tabir; betapa tidak masuk akalnya tuduhan pengkhiatan yang dilakukan Kesultanan Langkat terhadap RI yang baru berdiri.

Kesultanan Langkat sendiri tidak pernah mengkonsetrasikan kekuatan militer dengan tujuan persiapan mengkhianati pemerintah RI yang baru berdiri. Kehancuran Kesultanan Langkat yang menewaskan ribuan orang itu menjadi petanda pristiwa kemanusiaan paling destruktif yang pernah terjadi diawal abad-20.

Sebuah pristiwa yang bukan saja menghancurkan infrastruktur sosial, budaya, ekonomi dan politik—lebih  dari itu—terkuburnya gagasan genuine yang pernah mengharumkan nama Kesultanan Langkat dipentas nasional dan global sebagai kota pendidikan dan spiritual pada masanya.[**]

*Penulis adalah peneliti di Institute for Social Research, Yogyakarta.


 
       
Reaksi:

About Author

Advertisement

Post a Comment

 
Top