yongganas ganas yongganas ganas Author
Title: Hang Tuah, Polres Langkat, Rusuh Mekar Jaya
Author: yongganas ganas
Rating 5 of 5 Des:
Bentrok warga dan Polisi di Desa Mekar Jaya Suasana konflik beraroma kekerasan di Desa Mekar Jaya, Kecamatan Wampu, Langkat, masih jadi...


Bentrok warga dan Polisi di Desa Mekar Jaya
Suasana konflik beraroma kekerasan di Desa Mekar Jaya, Kecamatan Wampu, Langkat, masih jadi pembicaraan hangat. Sebagian warga yang tidak terl9ba konflik di kawasan tersebut merasa senang karena pihak Polres Langkat dan lainnya telah sukses mengusir para penggarap dari lahan sengketa antara pihak PT LNK dan kelompok Serikat Petani Indonesia (SPI).  

Mereka lebih suka lahan dikuasai oleh PT LNK karena selama ini ternak lembu dan kambing mereka bisa leluasa mencari makanan di kebun asal Malaysia itu. Sementara para penggarap dituduh suka mengusir bahkan melempari ternak warga tersebut bila masuk ke lahan penggarap.
 

Namun sebagian masyarakat sangat dan sangat mencela kelakuan polisi  dalam hal pengamanan pembersihan lahan bersengketa itu. Mereka keberatan lantaran upaya pembersihan tersebut dilakukan dengan cara kekerasan.  Sudahlah warga  dianiaya, sejumlah petani juga ditangkapi karena dituduh melawan petugas yang akan masuk ke lahan sengketa.
 

Barisan yang paling ketat mencibir ulah Polres Langkat diantaranya adalah Forum Lintas Pemuda Langkat (FLPM) dan Komisi A DPRD Sumut. Di mata para kader FLPM, terlepas siapapun yang memiliki hak alas atas tanah sengkata itu, polisi sangat tidak dibenarkan mengedepankan kekerasan. Masih banyak cara yang bisa ditempuh untuk menyelesaikan masalah tersebut. Soal ini tak bisa hanya diselesaikan secara lokal. Tapi harus melibatkan secara langsung pihak Pemerintah Provinsi Sumatera Utara dan lainnya.

Ketua Komisi A DPRD Sumut beruara lebih nyaring. Menurutnya apa yang terjadi di Kabupaten Langkat itu merupakan sengketa agraria, dan tidak ada urusan kepolisian di sana. Diuraikannya bahwa dalam kasus ini PT LNK tidak memiliki Hak Guna Usaha (HGU) atas lahan yang mereka klaim.Kalau pun bersengketa itu harusnya antar warga dengan PTPN 2 karena mereka yang punya HGU atas lahan di sana, bukan dengan PT LNK.

Usul FLPM Langkat dan pendapat Sarma layak dicermati.  Sebab masalah lahan  ini pada dasarnya bukanlah konflik langsung antara PT LNK dengan SPI. Tapi dengan pihak PTPN II yang memiliki HGU atas perkebunan di Langkat dan di tempat lainnya.

Perkebunanan Nusantara II (Persero) yang berdomisili di Medan Sumatera Utara, benar adanya melakukan Kerjasama Operasi (KSO) pengelolaan perkebunan Kelapa Sawit dan Karet di Wilayah Distrik Rayon Tengah dengan PT. Langkat Nusantara Kepong (PTLNK), pada 9 Juni 2009 di Kantor Kementerian Negara BUMN oleh Bhatara Moeda Nasution sebagai Direktur Utama PTPN II dan Mr. Liem Hoong Joon Direktur Utama PTLNK.

 Namun kerjasama operasi ini tidak akan merubah status kepemilikan seluruh aset milik PTPN II (Persero) yang terletak di wilayah DRT, yang dikerjasamakan dengan PTLNK, karena seluruh areal kebun dan pabrik serta sarana pendukung lainnya tetap dimiliki oleh PTPN II.  Dan seluruh aset ini akan dikembalikan oleh PTLNK kepada PTPN II pada saat berakhirnya Perjanjian KSO, yaitu 30 tahun sejak penandatanganan Perjanjian KSO.

Melihat kondisi ini, memang sebaiknya masalah sengketa lahan ini seyogiyanya kembali dibahas bersama antara PTPN II, SPI, dan Pemprovsu. PT LNK tak usah diikutkan, karena bukan mereka yang punya lahan.

Hang Tuah

Melihat gaya tegas polisi dalam opersi pembersihan lahan sengketa itu sungguh mencengankan banyak orang. Mereka bertanya-tanya, dalam operasi pembewrsihan lahan tersebut ternyata polisi bisa juga bersikap keras, meskipun sudah keterlaluan.

Yang jadi soal, mengapa kalau memberantas aksi premanisme kok melempem ya ? Sampai-sampai gerombolan maling sawit bukan hanya makin rakus menggerogoti hasil kebun milik BUMN, tapi juga nekat di siang bolong menyerang karyawan pemilik sawit.

Dalam hal ini Laksamana Hang Tuah, Panglima Di Laut Kerajaan Melaka, punya pengelaman yang gagah berani menumpas para lanun (bajak) laut yang ganas di Selat Melaka, hingga membuat hulubalang kerajaan ‘meriang berat’ bila berhadapan dengan gerombolan bajingan ini.

Sebelum menjadi pendekar yang menakjubkan di kawasan Semenanjung Melayu, tadinya Hang Tuah cuma anak biasa saja seperti yang kebanyakan di Bentan (Pulau Bintan Kepulauan Riau. Dia dilahirkan di Sungai Duyung, Singkep (Kabupaten Lingga, Kepulauan Riau sekarang). Setelah mendekati remaja,  ayahnya Hang Mahmud dan ibunya, Dang Merdu,  membawanya ke Pulau Bentan.

Hang Mahmud kemudian mendirikan bangunan rumah berdampingan dengan rumah Bendahara Paduka Raja, penasihat raja, seraya mendirikan kedai makan. Akan halnya Hang dean Hang Tuah, ia banyak membantu kedua orang tuanya mencari kayu bakar di hutan. Di sisa waktu yang lain, anak tu rajin pula mengaji, belajar bahasa Keling, bahasa China, Thailand, bahasa Jawa, serta belajar ilmu bela diri silat.

Temannya bermain kala itu adalah Hang Jebat, Hang Hang Kesturi, Hang Hng Lekir, dan Hang Lekiu. Kemana-mana mereka seiring sejalan hingga dikenal sebagai sahabat sahabat yang saling menolong sesamanya.

Ilmu silat berhasil mereka tekuni. Maka, dengan kemahiran ilmu itulah ke lima sahabat ini dikenal tangguh dalam membasmi segala kelakuan yang bergaya preman saat itu. Sejumlah para perusuh yang dikenal cukup bengis di Bentan, tewas di ujung keris Hang Tuah dan kawan-kawan.

Nama Hang Tuah dan sahabatnya makin kesohor setelah berkali-kali berhasil mematahkan serangan para lanun (bajak laut) yang dikenal ganas dan banyak berkeliaran di Selat Melaka. Pihak hulubalang kerajaan Melaka tak mampu mengatasinya

Ketika Hang Tuah dan sahabatnya berlayar merantau dari Bentan ke Melaka, tiba-tiba kepergok dengan 20 lanun. Namun dengan kemampuan silat dan nyali yang kuat, 10 dari lanun itu berhasil dirobohkan dengan keris, dan sisanya 10 lanun kabur. Begitulah cara hang Tuah dan sahabatnya mana kala kerajaan tak kuasa menghalau para bajingan.

Perlawanan Hang Tuah dan sahabatnya dalam membasmi lanun dan para perusuh akhirnya sampai ke telinga Sultan Kerajaan Melaka. Hang Tuah lalu diangkat menjadi laksamana Di Laut di kerajaan tersebut. Posisiini semakin memperkokoh ayunan kerisnya bersama sahabatnya untuk membasmi lanun yang banyak berkeliaran merompak kapal apa saja yang melintas di Selat Melaka.

Di dalam diri Hang Tuah tidak ada rasa takut. Karena jauh hari dia telah pun memaklumatkan semboyannya yang terkenal : Esa Hilang Dua Terbilang, Tak Hilang Melayu di Bumi, dan Tuah Sakti Hamba Negeri. 

Segagah-gagah para pendekar membela negara, pastilah akan berakhir karena msnusia adalah makhluk yang fana. Tapi Hang Tuah meyakini, darah pendekar yang mengucur sebagai bakti negara, tak lah membuat Melayu hilang di bumi. Segala perjuangan yang dilakukan suatu kaum untuk memberantas kejahatan tidaklah sia-sia. Satu pendekar hilang, dua datang sebqagai pengganti.

Begitulah cara Hang Tuah dan kawan-kawan memberantas aksi para penyamun di kawasan Semenanjung Melayu. Tidak kenal takut, tak peduli kawan atau lawan, Hang Tuah dan sahabatnya, telah menebar benih bagaimana selayaknya abdi negara bertugas. Mohon maaf, ini bukan mau mengajari pohon salak bisa berduri. (Bey)



Reaksi:

About Author

Advertisement

Post a Comment

 
Top