yongganas ganas yongganas ganas Author
Title: Esa Hilang Melayu Terbilang
Author: yongganas ganas
Rating 5 of 5 Des:
 Oleh : H Affan Bey Hutasuhut  Tekad ‘Melayu Tak Akan Hilang di Bumi’ masih saja menggelora hingga menembus jendela dunia. Makzulnya ker...


 Oleh : H Affan Bey Hutasuhut

 Tekad ‘Melayu Tak Akan Hilang di Bumi’ masih saja menggelora hingga menembus jendela dunia. Makzulnya kerajaan Melayu yang bertahta di Semenanjung Melayu seperti Kerajaan Singapura, Melaka, Johor, hingga Kesultanan Langkat, Deli, Serdang , Asahan, dan lainnya, justru menjadi garam penyedap untuk lebih gigih mempertahankan bahasa dan budaya Melayu  yang masih  tersisa.


Hang Tuah, Laksamana Raja di Laut Kerajaan Melaka bersuara lantang, Esa Hilang Dua Terbilang.  Bagi pendekar silat  yang berasal dari Singkep (sekarang Kepulauan Riau), kerajaan boleh runtuh, angin bertiup kencang ke utara atau ke Selatan, Puak Melayu harus tetap tegak. Satu hilang, dua terbilang.

Sempena dengan itu, patut diacungi jempol, banyak ilmuwan, teknokrat, sejarawan, birokrat, budayawan Melayu yang sejiwa dengan cita-cita Hang Tuah. Melalui lembaga seperti MABMI, di Sumatera Utara, Lembaga Adat Melayu (LAM) di Kepulauan Riau dan sebagainya, berupaya untuk melestarikan identitas  Melayu dengan beragam cara.

Kendati sudah bekerja dengan makasimal, tentu tak mudah begitu saja merajut sejarah yang tercecer.  Makanya mengembalikan penggunaan pengucapan bahasa Melayu, misalnya,  di kalangan puak Melayu di tanah Langkat,  masih  saja ‘sesak napas’. 

Bahasa dan Budaya

Robohnya secara perlahan penggunaan bahasa Melaya dan budaya, khususnya di Langkat, berawal dengan berakhirnya Kesultanan Langkat akibat kerusuhan sosial tahun 1946 silam. Keadaan diperparah dengan menyusupnya bahasa birokrat di Pusat dan daerah, puak lain yang datang merantau dan  bermukim secara perlahan di negeri  (pernah) kaya minyak ini.

Khalayak ramai secara  tidak sadar pun larut terperangkap  meninggalkan  bahasa ‘Bunda Melayu’ yang lebih membumi. Ucapan  kampung menjadi desa, kedai menjadi warung, hari raya menjadi lebaran, dan sebagainya.  Seni musik Melayu berganti menjadi musik organ tunggal.  Tak lagi terdengar senandung Melayu yang syahdu  dikumandangkan anak dara karena diserobot lagu dangdut yang dinilai lebih seronok.

Pertunjukan Tarian Melayu, acara berbalas pantun, pembacaan syair, kalau pun ada hanya pada acara resmi saja.  Boleh jadi syair Nyanyi Sunyi yang membuat penciptanya pujangga Pahlawan Nasional  Tengku Amir Hamzah kesohor ke jagad raya, hanya mampu dihafal sedikit orang.

Bahasa dan budaya adalah jati diri suatu kaum. Ketika jati diri ini terkikis, maka suatu kaum akan kehilangan jejak tempatnya bernaung. Dia akan kehilangan sejarah  yang sesungguhnya bisa membuat dirinya,  kaumnya, bangga dan lebih percaya diri menentang masa depan.

Budaya Melayu sarat dengan nuansa Islami. Karena para Sultan di Kerajaan  Melayu  dulu dalam pemerintahannya tetap bersinggungan dengan ajaran Islam. Sikap para pemimpin ini dengan sendirinya melahirkan perpaduan budaya dengan Islam di tengah masyarakatnya. 

Makanya salah satu khas seorang Melayu adalah beragama Islam. Sejak kecil  rajin belajar mengaji di maktab dan taat beribadah. Pertanyaannya, apakah budak-budak Melayu di Tanah Langkat ini masih mempertahankan tradisi yang  baik ini. Biarlah MABMI Langkat dan masyarakat sendiri yang menjawabnya. 

Ada tetangga yang bilang, bukankah kalau suatu kaum yang masih bertahan hidup dengan budaya masa lampaunya akan teringgal  di makan zaman ? Pertanyaan ini masuk akal kalau kaum tersebut larut dengan budayanya tanpa mau membuka diri dengan dunia luar.  

Masyarakat yang masih bertahan dengan budayanya justru bisa menjadi benteng pertahanan dalam menghadapi perubahan sedahsyat apapun tantangannya. Bangsa Jepang bisa masuk jajaran dunia, meski masyarakatnya masih ngotot dengan budaya ‘samurai’ nya.

Semangat samuirai inilah yang membuat bangsa Jepang mampu bangkit dengan waktu sepulh tahun setelah dua kota di negeri Sakura ini. Hirosima dan Nagasaki dibom oleh Amerika pada Perang Dunia ke II.  Simbol kebangkitan Jepang ditandai dengan suksesnya penyelenggaraan Olmpiade Tokyo tahun 1964.  Tahun 1975 bahkan berhasil masuk menjadi kelompok Negara G -7.

D itengah dahsyatnya gempuran model busana dari barat, para wanita nya masih enggak malu  dengan pakaian tradisional  baju ‘kimono’ dan baju ‘Yukata’ pada acara-acara besar di negaranya.  Budaya Jepang ini bahkan mampu membuat masyarakatnya memuiliki harga diri dan rasa malu yang tinggi. Sebuah kesalahan sering diakhiri ( ini jangan ditiru) dengan bunuh diri ala hara kiri—memenggal kepala dan merobek perut—dengan pedang samurai.

Perjalanan sejarah Jepang ini membuktikan bahwa budaya sebagai jati diri sutu kaum tidak membuat orang jadi kampungan. Tapi justru menjadi naik kelas karena rajin belajar ilmu pengetahuan dan budaya orang lain, tanpa harus meninggalkan budaya aslinya.

Seyogiyanya para tokoh MABMI Langkat bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Langkat untuk lebih erat  menanamkan bahasa dan Budaya Melayu yang sempat tercecer  jauh kepada khalayak ramai.  Kalau perlu bangun gedung ‘Melayu Center’ yang bisa dijadikan tempat berdiskusi, sarana untuk melestarikan seni musik Melayu,  dan beragam aktivitas lainnya. 






About Author

Advertisement

Post a Comment

 
Top