yongganas ganas yongganas ganas Author
Title: Dugaan Penyelewengan Bantuan Di Dinas Pertanian Langkat : Untuk Dapatkan Bantuan Bentuk Poktan Fiktif
Author: yongganas ganas
Rating 5 of 5 Des:
Ilustrasi alat pertanian STABAT –News Metrolangkat.com Program Ketahanan Pangan Nasional (PKPN) yang sedang digalakan pemerintah untuk ...
Ilustrasi alat pertanian

STABAT –News Metrolangkat.com

Program Ketahanan Pangan Nasional (PKPN) yang sedang digalakan pemerintah untuk mendukung swa sembada ketersediaan beras secara luas, ternyata sering dimanfaatkan oknum-oknum di Dinas Pertanian (Distan) Langkat untuk memperkaya diri sendiri.

Tidak hanya bantuan Peralatan Mesin Pertanian (Alsintan), bahkan pengadaan benih padi pun jadi ajang manfaat bagi para bromocorah di lingkungan jajaran instansi  yang menanungi para petani tersebut.

Untuk terus mendapatkan bantuan dari pemerintah pusat, beragam cara dilakukan Distan Langkat, dengan cara membuat peta dan mengirimkan data luas lahan pertanian produktif yang jelas-jelas piktif.

Sebab, luas lahan pertanian produktif yang mendukung ketahanan swa sembada pangan di wilayah Kabupaten Langkat, saat ini kondisinya semakin sempit karena banyaknya petani yang mengalihkan pungsi lahanya dari padi kesawit.

Nah, menyadari luas lahan pertanian yang saat sudah banyak yang berubah fungsi menjadi lahan perkebunan kelapa sawit, ternyata pihak Distan Langkat tetap tidak ingin bantuan pemerintah pusat akan semakin kecil.
Sehingga pihak Distan tetap menggunakan data lahan tahun 2008 untuk melancarkan upaya pungli berbagai bantuan tersebut.

Untuk memuluskan upaya pungli bantuan benih padi unggulan dan jatah perolehan pupuk bersubsidi tidak berkurang "jatahnya", maka pihak Distan sengaja melanggengkan pembentukan kelompok tani (Poktan) fiktip.

Pembentukan poktan piktif ini memang menjadi alat ampuh bagi oknum-oknum Distan untuk terus mengorek keuntungan secara berkelompok. Tentu saja, pembentukan poktan piktif ini harus melalui persyaratan yang sudah ditentukan oleh oknum-oknum bermental korup.

Salah satunya, orang yang akan menjadi Kepala Kelompok Tani (Kapoknak), harus orang yang mampu "menservice" oknum-oknum dari pihak Distan.

Buktinya, salah satu kelompok tani piktif yang diketuai WG, meski ditengarai tidak memiliki lahan pertanian memadai, bisa mendapatkan bantuan Alsintan dan bantuan benih padi.

"Pokoknya, untuk wilayah Kec.Selesei, siapa yang gak kenal sama WG. Dia (WG), pemilik kilang padi dan pemilik kios pupuk bersubsidi, kenapa bisa menjadi Kapoktan. Padahal, anggota poknak yang dipimpinnya tidak memiliki lahan pertanian produktif atau sawah.

Ada apa kok WG bisa memiliki mesin pengering gabah (Open) dari bantuan pemerintah yang digunakan untuk kepentingan usaha kilang padinya. Padahal, kita tau dari harganya menurut pihak BPP mencapai miliaran.

Jadi, bisa dibayangkan, berapa sebenarnya uang fee yang disetorkan WG kepada pihak Distan Langkat, melalui BPP," ujar masyarakat Poktan setempat, kepada media ini, Senin (10/10).

Bukan itu saja, masih kata masyarakat Poktan, beberapa waktu lalu pemerintah ada membagikan benih padi unggulan bersubsudi secara gratis kepada Poktan.  "Tapi target penanaman 150 hektar sawah untuk program swasembada pangan tersebut tidak tercapai.

Sebab, jangankan lahan 50 hektar, untuk 1 Poktan aja cari 30 hektar lahan persawahannya aja sulit. Jadi, kelebihan benih gabah itu langsung diambil WG dan dikeringkan menggunakan open, kemudian digiling dan menghasilkan beras. Nah, beras itu kemudian dijual lagi di kilang padi miliknya," ujar masyarakat petani lagi.

Lalu permainan apalagi yang dilakukan oknum-oknum didinas yang mengurusi petani . Untuk mengetahuinya, Metro Langkat akan terus melakukan investigasi guna mengungkap pat gulipat serta kongkalikong berbagai penyelewengan yang dilakukan. Ikuti liputan berikutnya. (rud)

About Author

Advertisement

Post a Comment

 
Top