yongganas ganas yongganas ganas Author
Title: Luar Biasa...!!Usia 19 Tahun, Berat Wahid 180 Kg
Author: yongganas ganas
Rating 5 of 5 Des:
Jateng,News Metrolangkat.com Remaja obesitas yang bobotnya mencapai 180 kg, Wahid Zaenanda kini menjalani perawatan di Rumah Sakit Umum Da...

Jateng,News Metrolangkat.com

Remaja obesitas yang bobotnya mencapai 180 kg, Wahid Zaenanda kini menjalani perawatan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kardinah, Tegal, Jateng. Semua pembiayaan pengobatan remaja 19 tahun itu akan ditanggung oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan dan Pemerintah Kota (Pemkot) Tegal.
Wahid yang memiliki Bobot 180 Kg. (poto jpnn}

Wali Kota Tegal KMT Hj Siti Masitha Soeparno saat menjenguk Wahid, bersama rombongan pengurus Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Tegal Minggu (25/9) mengatakan, Wahid membutuhkan support secara medis, moril, dan materil agar mendapat perawatan sebaik-baiknya di RSUD Kardinah. 

Selain itu, wali kota berharap, anggota keluarga terus mendukung Wahid agar kembali sehat dan mendapatkan berat badan yang ideal.  Apalagi, melihat usia Wahid yang sangat muda, tapi bobotnya sangat berlebih. 

”Kami turut prihatin dan memperhatikan semua warga yang membutuhkan uluran tangan,” terang wali kota, didampingi Wakil Direktur Kardinah Drg Agus Dwi S. 

Pihaknya menegaskan bahwa Pemkot Tegal akan mengimplementasikan pelayanan terbaik, khususnya terhadap remaja warga RT 4 RW 1, Jalan Tentara Pelajar No. 5, Kelurahan Slerok, Kecamatan Tegal Timur.

Menurut Siti, wajar jika keluarga Wahid kekhawatiran, Wahid tidak bisa kembali pada kondisi normal. Namun, wali kota menegaskan bahwa proses perawatan tidak bisa dilakukan secara instan. Apalagi, gejala obesitas sudah terindikasi sejak Wahid berusia 3 tahun. ”Wahid juga ternyata autis,” tuturnya. 

Oleh sebab itu, harus dilakukan penanganan secara profesional dari dokter-dokter ahli. Setidaknya, ada kesadaran dari orang tua untuk dilakukan penanganan secara medis. 

”Kita lihat proses penyembuhannya tanpa harus merujuk ke tempat lain, harus diperiksa semuanya mulai jantung dan organ tubuh lainnya,” jelas wali kota.
 
Salah satu dokter yang menangani, dr Tri Setyo SPKj mengatakan, Wahid didiagnosa mengalami autis sekaligus obesitas. Nah, autis yang dialami sejak kecil sudah bisa dipantau. 

”Saat ini untuk autisnya sudah tertangani dengan baik karena rutin kontrol. Jadi saat ini kita akan fokuskan pada penanganan pada obesitasnya,” katanya.

Sementara itu, Wakil Direktur Pelayanan Kardinah Agus Dwi. S. mengatakan, tim dokter khusus sudah dibentuk untuk menangani kasus remaja obesitas. 

Mereka terdiri terdiri dari delapan personel yang dipimpin dr Nurmilawati dengan dokter spesialis meliputi ahli penyakit dalam Said Baraba, ahli kejiawaan/psikiater Tri Setyo, ahli jantung dan pembuluh darah Arbi Lizarda, ahli paru Eko, serta dokter khusus pemeriksaan laboratorium dan radiologi. 

Selain menjalani diet gizi, pemeriksaan lanjutan secara menyeluruh juga terus dilakukan pantauan tim dokter khusus. 

”Untuk sekarang, penanganan medis masih fokus untuk memastikan fungsi jantung, paru-paru, lambung, dan ginjal apakah bekerja normal atau ada gangguan,” ungkapnya.

Terkait teknis diet gizi yang diterapkan, Agus Dwi menuturkan, menjadi salah satu terapi medis bagi penderita obesitas. Khususnya dalam mengendalikan pola dan nafsu makan selama menjalani perawatan. 
Namun, agar asupan gizi yang dibutuhkan tetap terpenuhi, tambahan nutrisi juga sudah diberikan melalui infus.

Hal itu untuk menyeimbangkan kinerja organ dalam. Bahkan, untuk memastikan perkembangan terkini tentang kondisi dan kinerja seluruh organ dalam, Senin-Selasa (26-27/9) Wahid akan kembali menjalani pemeriksaan lab, radiologi, hingga CT Scan. 

”Kasus obesitas ini memang tergolong langka, karena selain obesitas Wahid juga terdeteksi autis, sehingga perlu penanganan khusus psikiater,” terangnya.

Lebih lanjut Agus Dwi menjelaskan, untuk mengantisipasi tindakan melukai diri sendiri, pihaknya juga sudah memasang satu matras tepat di dinding ruang rawat inap sebelah kanan ranjang pasien.

Tujuannya agar saat pasien marah ada media atau sarana yang digunakan untuk meluapkan emosinya. 
Dengan demikian, tidak melukai dirinya sendiri, baik dengan memukul bagian tubuh atau kepalanya. 
Sementara itu, Winarni, 46, ibunda Wahid yang senantiasa mendampingi putra sulungnya dari lima bersaudara tersebut merasa bersyukur. 

Sebab, putranya langsung mendapatkan penanganan medis yang cepat dan layak. 
Bahkan, dia juga menyampaikan ucapan banyak terima kasih kepada pihak rumah sakit dan Pemkot Tegal karena mendapat pelayanan dan ruang perawatan khusus. ”Tiga hari, nafsu makan Wahid jadi terkontrol, karena makannya juga cuma enam sendok,” ujarnya.
 
Dengan begitu, kebiasaan makan Wahid saat ini saat ini jauh berbeda dengan sebelum mendapatkan penanganan. Sebab, dulu, dalam sehari Wahid bisa menghabiskan telur 3 kilogram, mi instan sepuluh bungkus plus nasi. (dya/syf/sam/jpnn) 
Reaksi:

About Author

Advertisement

Post a Comment

 
Top