yongganas ganas yongganas ganas Author
Title: Diduga Miliki Backing : Peternak Babi Ilegal Tetap Beroperasi di Kota Binjai
Author: yongganas ganas
Rating 5 of 5 Des:
Salah satu rumah peternak babi ilegal di Binjai BINJAI –News Metrolangkat.com Sudah lebih dari 3 bulan, Komunitas Hijau Indonesia (...
Salah satu rumah peternak babi ilegal di Binjai



BINJAI –News Metrolangkat.com

Sudah lebih dari 3 bulan, Komunitas Hijau Indonesia (KHI), menyampaikan kepada pihak exekutif maupun legislatif yang ada di Kota Binjai untuk menindak tegas para peternak babi yang tidak memiliki izin. Tapi sepertinya, pihak eksekutif dan legislatif seolah tidak lagi perduli terhadap keberadaan peternak babi sebagaimana yang disampaikan oleh penggiat lingkungan di Kota Binjai ini.



Menurut Ketua KHI, Ikhsan Rawi, pemerintah memang tak punya keinginan untuk menutup kegiatan peternakan ilegal tersebut. Hal ini mungkin dikarenakan para peternak sudah memiliki backing dari para petinggi-petinggi yang ada di Binjai.



Dari hasil pantauan yang dilakukan KHI di lapangan, sesungguhnya tidak ada lagi alasan bagi Pemko Binjai untuk tidak menutup peternakan ini. Apalagi, hingga saat ini tidak ada PAD yang didapati dari usaha peternakan babi ini.



Pihak KHI menjelaskan, ,mereka sudah mendapatkan informasi dari Rumah Pemotongan Hewan (RPH) yang ada di Kelurahan Cengkeh Turi, bahwa sudah lama sekali tidak ada kegiatan melakukan pemotongan babi ternak yang masuk.



Padahal, sebelumnya setiap babi yang dipotong di RPH ini, membayar retribusi sebesar Rp29.000 per ekor.



“Memang sangat aneh jadinya, dimana Kota Binjai terkenal sebagai pengekspor daging babi ternak yang berjumlah ribuan ekor, tapi tak seekor pun pemotongan yang dilakukan lewat RPH milik Pemko Binjai,” ujar Ikhsan Rawi.



Menurut Ikhsan Rawi, para peternak ini sudah tidak lagi mengindahkan Undang Undang No.32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup sesuai Pasal 109 yang isinya “Setiap orang yang melakukan usaha dan/atau kegiatan tanpa memiliki izin lingkungan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36 ayat (1), dipidana dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 3 (tiga) tahun dan denda paling sedikit Rp1.000.000.000 dan paling banyak Rp3.000.000.000.



“Untuk itu, sangat jelas sekali kami minta kepada aparat penegak hukum untuk dapat menindak lanjuti hal ini. Tangkap seluruh peternak yang tak berizin, agar kedepan tidak ada lagi pengusaha ilegal yang berani beroprasi di kota ini,” harap Ikhsan.



Selain itu, menurut penelitian yang dilakukan oleh Daniel S.Shapiro, M.D, Pengarah Clinical Microbiology Laboratories, Boston Medical Center, Massachusetts dan juga merupakan Penolong Profesor Perubatan di Pathology and Laboratory Medicine, Boston University School of Medicine, Massachusetts, merumuskan terdapat lebih dari pada 25 penyakit yang bisa dijangkiti dari babi.



Bila ada babi, maka dalam tubuh babi, Virus AI dapat melakukan mutasi & tingkat virulensinya bisa naik hingga menjadi H5N1. Virus AI Strain H5N1 dapat menular ke manusia. Virus H5N1 ini pada Tahun 1968 menyerang Hongkong dan membunuh 700.000 orang (diberi nama Flu Hongkong).



“Jadi kami dari Komunitas Hijau Indonesia, sudah berupaya sekuat kami dalam mengadvokasi hal ini. Kami mengajak  masyarakat Kota Binjai untuk bersama-sama menutup ternak babi yang sudah meresahkan ini. Komisi A DPRD Kota Binjai yang kami harapkan dapat membantu upaya kita dalam hal ini, tidak lagi memiliki arah yang jelas. Yang pasti kami kecewa dengan kinerja Komisi A DPRD Binjai,” ujar Ikhsan.(red)






About Author

Advertisement

Post a Comment

 
Top