yongganas ganas yongganas ganas Author
Title: Terkait Penculik Cuma Dituntut Tiga Bulan : Terdakwa Bohongi Hakim, Katanya Sakit Nyatanya Kerja Dibengkel
Author: yongganas ganas
Rating 5 of 5 Des:
Terkait Penculik Cuma Dituntut Tiga Bulan : Terdakwa Bohongi Hakim, Katanya Sakit Nyatanya Kerja Dibengkel Terdakwa kasus penculikan. ...
Terkait Penculik Cuma Dituntut Tiga Bulan :
Terdakwa Bohongi Hakim, Katanya Sakit Nyatanya Kerja Dibengkel
Terdakwa kasus penculikan.

STABAT –News Metrolangkat.com

Sidang pembacaan Eksepsi (keberatan) tangkisan atau bantahan yang diajukan terdakwa Henderi Winardi alias Ahen, dalam kasus penculikan Andi Kesuma alias Asia (27), warga Kel.Pekan Tanjung Pura, Kec.Tanjung Pura, atas tuntutan yang disampaikan Jaksa Penuntut Umum (JPU) selama 3 bulan penjara dari Kejaksaan Negeri (Kejari) Langkat, gagal digelar oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Stabat pada Selasa (23/8), kemarin.

Gagalnya persidangan penyampaian Eksepsi dari terdakwa atas tuntutan JPU, M.Alfriandi Hakim SH, dalam kasus penculikan tersebut, dikarenakan terdakwa melaporkan ketidak hadirannya karena kondisinya sedang dalam keadaan sakit.

Namun, pelaporan sakit yang disampaikan terdakwa Henderi Winardi alias Ahen tersebut, ternyata hanya akal-akalan terdakwa sendiri dengan maksud sengaja untuk menunda-nunda agenda persidangan pembacaan putusan dari Majelis Hakim PN Stabat.

Pasalnya, terdakwa Henderi Winardi alias Ahen, warga Jln.Letda Sujono, Medan, tersebut ternyata tetap melakukan kegiatan usaha di toko OIL AUTO 78, di rumah Ibu terdakwa, Ani, yang juga disebut-sebut sebagai dalang penculikan korban Andi Kesuma alias Asia.

Gagalnya persidangan dengan agenda pembacaan eksepsi dari terdakwa Hnederi Winardi alias Ahen tersebut, sangat disesalkan pihak keluarga korban.

“Penyampaian laporan tentang sakitnya terdakwa Henderi Winardi alias Ahen, sehingga sidang penyampaian eksepsi dari terdakwa, seolah disengaja agar penggelaran sidang pembacaan putusan oleh Majelis Hakim PN Stabat, semakin lama. Ini dilakukan terdakwa agar terdakwa tidak menjalani hukuman sesuai dengan tuntutan JPU meski hanya dituntut selama 3 bulan penjara.

Tapi anehnya, dari berkas tuntutan JPU yang tertulis, terdakwa Henderi Winardi alias Ahen yang disampaikan dalam persidangan  terdahulu dituntut hukuman 3 bulan penjara itu, kok tertulis menjadi tahanan rumah. Ini ada apa sebenarnya. Padahal, terdakwa sebenarnya tidak sakit dan terlihat masih beraktivitas di Toko OIL AUTO 78,” ujar paman korban, Jonni, yang merasa aneh selama digelarnya sidang kasus penculikan yang digelar di PN Stabat tersebut.

Bukan itu saja, masih kata Jonni, malam hari sebelum agenda persidangan pembacaan nota pembelaan eksepsi dari terdakwa digelar, Terdakwa Henderi Winardi alias Ahen, masih terlihat segar bugar.

“Kita sama-sama menyaksikan kalau terdakwa Henderi Winardi alias Ahen malam hari sebelum sidang penyampaian eksepsi nota keberatan dari terdakwa digelar, Henderi Winardi alias Ahen masih terlihat segar bugar,” ujar Jonni, didampingi Ketua LSM Bara Api, Nurdiansyah, Repin dan Along, kepada METRO LANGKAT, kemarin.


Sebagaimana diberitakan sebelumnya, persidangan kasus penculikan korban Andi Kesuma alias Asia, disinyalir berjalan penuh rekasa oleh JPU dan oknum anggota Majelis Hakim. Pasalnya, selama ini diduga baik pihak Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejari Stabat dan salah seorang anggota Majelis Hakim yang menyidangkan kasus tersebut, diduga sudah menerima upeti dari keluarga terdakwa.

Apalagi, selama ini pihak JPU yang telah menyatakan lengkap (P-21) berkas hasil pemeriksaan yang dilakukan penyidik dari Polres Langkat, malah terkesan melemahkannya.

Padahal, sejak kasus yang ditangani penyidik Polres Langkat berdasarkan Surat Laporan Polis Nomor : LP/692/XI/2014/SU/Lkt, tanggal 08 November 2014, tetang perkara tindak pidana kejahatan terhadap perampasan kemerdekaan orang dan pemaksaan dan atau mengancam sebagaimana dimaksud dalam Pasal 333 ayat (1) subsider Pasal #55 ayat (1) KUHPidana, seperti tidak berlaku.

Malah, dalam eksepsi tuntutannya, JPU, M.Alfriandi Hakim SH, menerapkan pertimbangan hukumnya dengan Pasal 335 dan Pasal 484 tentang perbuatan tidak menyenangkan.

Dalam persidangan semua terungkap bahwa pelaku mengakui adanya upaya penculikan dan pengancaman terhadap korban serta mungangkapkan penyesalannya. Namun anehnya, JPU hanya menjatuhkan tuntutan penjara selama 3 bulan, Selasa (16/8).

Keanehan lainnya, kendati JPU menjatuhkan tuntutan hukuman 3 bulan penjara, namun dalam memory tuntutan sidang terungkap bahwa terdakwa tidak menjalani penahan di penjara. Melainkan, terdakwa hanya menjalani hukuman tahanan rumah.

Selain itu, sejak persidangan awal pembacaan dakwaan JPU juga tidak pernah menghadirkan, Ani (Ibu terdakwa-Red) yang dalam kasus ini diduga sebagai dalang aksi penculikan. Padahal dalam Berkas Pemeriksaan Perkara (BAP), sosok Ani sudah disebut-sebut penyidik dan seharusnya dihadirkan dalam persidangan.

Kendati keseluruhan BAP tersebut dinyatakan lengkap jaksa, namun Ani sebagai dalang penculikan tidak pernah dihadirkan ke persidangan dan menuding kesalahan kepada penyidik.

Begitu juga dengan barang bukti berupa mobil Avanza BK 1311 RW, yang digunakan pterdakwa bersama ke enam pelaku lainnya untuk melakukan penculikan korban, tidak pernah dihadirkan JPU. Bahkan Majelis Hakim yang seharusnya memerintahkan kepada JPU untuk menghadirkan seluruh pelaku yang disebut-sebut terlibat dalam berkas dakwaan, namun tidak melakukannya.

Dugaan kolaborasi untuk meringankan hukuman atas terdakwa Henderi Winardi alias Asenantara JPU dan Majelis Hakim sudah tercium sejak awal. Apalagi, tiga orang Majles Hakim yakni, Ketua Majelis dan 2 orang Anggo Majelis Hakim, hanya memimpin sidang pada persidangan perdana serta persidangan ke enam. Sementara sidang kedua dan sidang kelima, hakim yang menyidangkan cuma satu orang yakni, Hakim Anggota, Edy Siong SH, Mhum.

Pihak keluarga korban sangat menyesali hasil persidangan yang dinilai sudah diatur sedemikian rupa untuk meringankan hukuman terdakwa Henderi Winardi alias Ahen, pelaku kasus penculikan dan pengancaman berencana.

“Ini kan aneh. Semua yang terlibat dalam berkas pemeriksaan yang telah dinyatakan lengkap oleh jaksa, kok tidak dihadirkan. Majelis Hakim yang memimpinsidang juga tidak pernah memerintahkan kepada JPU untuk menghadirkan semua pihak yang disebut-sebut dalam BAP. Ada apa ini..?” ujar Jonni selaku paman korban yang terus mengikuti persidangan korban penculikan Andi Kesuma alias Asia.(rud)
Reaksi:

About Author

Advertisement

Post a Comment

 
Top