yongganas ganas yongganas ganas Author
Title: Hebatkan...? Penculik Cuma Dituntut Tiga Bulan
Author: yongganas ganas
Rating 5 of 5 Des:
Hebatkan...? Penculik Cuma Dituntut Tiga Bulan Pelaku penculikan (terdakwa-red) saat jalani sidang putusan.(rudi) Korban penculikan...
Hebatkan...? Penculik Cuma Dituntut Tiga Bulan



Pelaku penculikan (terdakwa-red) saat jalani sidang putusan.(rudi)
Korban penculikan

STABAT –News Metrolangkat.com

Persidangan dengan agenda pembacaan tuntutan kasus penculikan Andi Kesuma alias Asia (27), warga Kel.Pekan Tanjung Pura, Kec.Tanjung Pura, dengan terdakwa pelaku penculikan, Henderi Winardi alias Ahen, warga Jln.Letda Sujono, Medan, dikecam banyak pihak.

Pasalnya, selama ini diduga baik pihak Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejari Stabat dan salah seorang anggota Majelis Hakim yang menyidangkan kasus tersebut, diduga sudah menerima upeti dari keluarga terdakwa.
 Apalagi, selama ini pihak JPU yang telah menyatakan lengkap (P-21) berkas hasil pemeriksaan yang dilakukan penyidik dari Polres Langkat, malah terkesan melemahkannya.

Padahal, sejak kasus yang ditangani penyidik Polres Langkat berdasarkan Surat Laporan Polis Nomor : LP/692/XI/2014/SU/Lkt, tanggal 08 November 2014, tetang perkara tindak pidana kejahatan terhadap perampasan kemerdekaan orang dan pemaksaan dan atau mengancam sebagaimana dimaksud dalam Pasal 333 ayat (1) subsider Pasal #55 ayat (1) KUHPidana, seperti tidak berlaku.

Malah, dalam eksepsi tuntutannya, JPU, M.Alfriandi Hakim SH, menerapkan pertimbangan hukumnya dengan Pasal 335 dan Pasal 484 tentang perbuatan tidak menyenangkan.

Dalam persidangan semua terungkap bahwa pelaku mengakui adanya upaya penculikan dan pengancaman terhadap korban serta mungangkapkan penyesalannya. Namun anehnya, JPU hanya menjatuhkan tuntutan penjara selama 3 bulan, Selasa (16/8).

Keanehan lainnya, kendati JPU menjatuhkan tuntutan hukuman 3 bulan penjara, namun dalam memory tuntutan sidang terungkap bahwa terdakwa tidak menjalani penahan di penjara. Melainkan, terdakwa hanya menjalani hukuman tahanan rumah.

Selain itu, sejak persidangan awal pembacaan dakwaan JPU juga tidak pernah menghadirkan, Ani (Ibu terdakwa-Red) yang dalam kasus ini diduga sebagai dalang aksi penculikan. Padahal dalam Berkas Pemeriksaan Perkara (BAP), sosok Ani sudah disebut-sebut penyidik dan seharusnya dihadirkan dalam persidangan.

Kendati keseluruhan BAP tersebut dinyatakan lengkap jaksa, namun Ani sebagai dalang penculikan tidak pernah dihadirkan ke persidangan dan menuding kesalahan kepada penyidik.

Begitu juga dengan barang bukti berupa mobil Avanza BK 1311 RW, yang digunakan pterdakwa bersama ke enam pelaku lainnya untuk melakukan penculikan korban, tidak pernah dihadirkan JPU. Bahkan Majelis Hakim yang seharusnya memerintahkan kepada JPU untuk menghadirkan seluruh pelaku yang disebut-sebut terlibat dalam berkas dakwaan, namun tidak melakukannya.

Dugaan kolaborasi untuk meringankan hukuman atas terdakwa Henderi Winardi alias Asia antara JPU dan Majelis Hakim sudah tercium sejak awal. Apalagi, tiga orang Majles Hakim yakni, Ketua Majelis dan 2 orang Anggo Majelis Hakim, hanya memimpin sidang pada persidangan perdana serta persidangan ke enam. Sementara sidang kedua dan sidang kelima, hakim yang menyidangkan cuma satu orang yakni, Hakim Anggota, Edy Siong SH, Mhum.

Pihak keluarga korban sangat menyesali hasil persidangan yang dinilai sudah diatur sedemikian rupa untuk meringankan hukuman terdakwa Henderi Winardi alias Ahen, pelaku kasus penculikan dan pengancaman berencana.

“Ini kan aneh. Semua yang terlibat dalam berkas pemeriksaan yang telah dinyatakan lengkap oleh jaksa, kok tidak dihadirkan. Majelis Hakim yang memimpinsidang juga tidak pernah memerintahkan kepada JPU untuk menghadirkan semua pihak yang disebut-sebut dalam BAP. Ada apa ini..?” ujar Jonni selaku paman korban yang terus mengikuti persidangan korban penculikan Andi Kesuma alias Asia.

Sementara ituKasi Intel Kejari Langkat, Erik Yudistira SH, saat menerima perwakilan keluarga korban menjelaskan bahwa, segala pasal sebagai landasan tuntutan terhadap terdakwa selama 3 bulan, sudah sesuai dengan fakta-fakta .

“Terdakwa sudah mengakui bahwa dia memang sebagai pelaku penculikan dan pengancaman. Karena korban tidak mengalami luka atau pun mengalami dampak dari aksi penculikan itu, seperti penganiayaan sehingga korban tidak mampu berdiri atau tidak mampu lagi bekerja. Jadi sah-sah saja kalau pasal yang dikenakan menjadi pasal 335 dan Pasal 448. Artinya, setiap perbuatan pidana yang dihukum di bawah 5 tahun, tidak wajib menjalani penahanan,” ujar Erik.

Erik juga menyarankan agar pihak keluarga menanyakan kembali kepada penyidik tentang orang-orang terlibat dalam kasus penculikan yang dinyatakan DPO. “Kalau masalah mobil, sah-sah saja tidak dihadirkan dalam persidangan sebagai barang bukti. Sebab, mobil tersebut tidak bisa bicara. Jadi gak harus dihadirkan dalam persidangan atau disita,” ujar Erik, di ruang kerjanya, Selasa (16/8).

Namun apa yang diungkapkan Erik tentang pelaku tindak pidana yang hukuman di bawah 5 tahun tidak harus menjalani hukuman penjara, ternyata berbanding terbalik dengan apa yang dialami seorang kakekdi Langkat, yang harus meringkuk di dalam penjara karena mencuri setengah karung pupuk.

“Padahal, pupuk tersebut dicuri untuk membeli beras. Kakek itu terpaksa mencuri pupuk untuk membeli beras. Namun dalam persidangan beberapa hari lalu ternyata Kakek itu dutuntut 1,5 tahun penjara dan sepeda motor yang digunakan juga turut disita pihak kejaksaan,” ujar salah seorang rekan wartawan yang meliput persidangan kakek malang tersebut.(rud)


Reaksi:

About Author

Advertisement

Post a Comment

 
Top