yongganas ganas yongganas ganas Author
Title: Dituntut 3 Bulan Terdakwa Masih Keberatan
Author: yongganas ganas
Rating 5 of 5 Des:
Terdakwa saat menjalani persidangan STABAT –News Metrolangkat.com Sidang lanjutan kasus...






Terdakwa saat menjalani persidangan

STABAT –News Metrolangkat.com

Sidang lanjutan kasus tindakkan upaya penculikan yang dilakukan terdakwa Hendri Winardi alias Ahen terhadap korban Andi Kesuma alias Asia (27),memasuki pembacaan pledoi atau pembelaan terdakwa atas tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU), M.Alfriandi Hakim SH, dari Kejaksaan Negeri (Kejari) Langkat, beberapa pekan lalu.

Kendati JPU pada persidangan dengan agenda pembacaan tuntutan, pada Selasa (16/8) lalu hanya menjatuhi hukuman 3 bulan penjara, namun terdakwa dalam persidangan itu mengaku keberatan dan memohon eksepsi sesuai tawaran dari Ketua Majelis Hakim, Dewi Andriyani, dengan hakim anggota, Anita Silitonga dan Edy Siong.

Sebelumnya, agenda sidang pembacaan eksepsi atau pledoi yang digelar di Pengadilan Negeri (PN) Stabat, sudah berulangkali gagal digelar dengan alasan terdakwa yang tidak pernah ditahan, dilaporkan sakit. Sehingga, JPU tidak berhalangan untuk menghadirkan terdakwa dalam persidangan.

Pada persidangan pembacaan eksepsi (sanggahan) atau pembelaan (pledoi) dari terdakwa, Selasa (30/8), kendati mendapat protes dari pihak keluarga korban tentang penerapan pasal 335 dan 448 yang dilakukan JPU, M.Alfriandi Hakim SH, namun dalam persidangan tersebut JPU mengatakan tetap pada tuntutannya semula.

Sama dengan sedang tuntutan sebelumnya, di hadapan Majelis Hakim, terdakwa Henderi Winardi alias Ahen, mengakui segala perbuatannya yang telah melakukan penculikan seperti dalam dakwaan. Di depan Ketua Majewlis Hakim dan JPU, terdakwa juga menyesali perbuatan. Menurut terdakwa dalam pledoi tersebut mengatakan bahwa dirnya sangat menyesali perbuatannya yang membawa korban, Andi Kesuma, ke dalam mobil.


Menurut pembelaannya, apa yang dilakukannya itu semata-mata karena sedih melihat ibunya, Ani (yang tidak pernah dihadirkan dalam persidangan kendati namanya disebut-sebut dalam berkas pemeriksaan penyidik sebagai salah satu saksi yang diduga sudah bekerjasama dan mengetahui terdakwa untuk melakukan penculikan terhadap korban-Red)yang belakangan sering sakit-sakitan dan keluar masuk rumah sakit.


Terdakwa berdalih, ibunya keluar masuk rumah sakit karena tekanan batin akibat menanggung hutang korban Andi Kesuma sebesar Rp117 juta dan menjadi tanggungjawab Ibunya untuk membayar Rp8 juta setiap bulannya.

Sayang, dalam pledoi tersebut, Henderi tidak menjelaskan asal usul uang yang dipakai korban untuk membiayai istrinya operasi melahirkan anak kembar. Sebab, dalam setiap arisan, anggota diperbolehkan menggunakan (menarik) uang arisan terlebih dahulu karena adanya kebutuhan mendesak kendati harus mendapatkan ijin dari para anggota arisan lainnya.

Namun dalam pledoi tersebut, terdakwa Henderi hanya disebut-sebut berusaha mendapatkan uang tersebut dengan segala cara atau alasan lain datang ke Ibunya. Salah satu alasannya adalah disaat istri Andi Kesuma (korban) melahirkan anak kembar dengan operasi yang membutuhkan biaya yang cukup besar.

Dalam pledoi itu, terdakwa Hendri Winardi alias Ahen juga mengucapkan sumpah tidak berniat untuk melukai atau pun mencelakai Andi Kesuma (korban) yang katanya sudah dianggap sebagai adiknya sendiri. Maksud penculikan tersebut supaya korban beritikad baik dan bertanggungjawab terhadap hutangnya kepada Ibu terdakwa, Ani.

Dalam pembelaannya, terdakwa Hendri Winardi alias Ahen mengaku kepada Majelis Hakim, bahwa kasus yang dialaminya sejak awal penyelidikan dari polisi hingga mejalani persidangan di pengadilan, tidak diketahui oleh Ibunya karena khawatir menambah beban batin.

Dengan alasan tersebut, terdakwa Henderi Winardi alias Ahen memohon kepada Majelis Hakim untuk memberikan hukuman yang sringan-ringannya atas kesalahan yang diperbuat dan memohon keadilan.

Namun, keterangan yang disampaikan terdakwa Henderi Winardi alias Ahen tersebut dinggap bertolak belakang dengan keadaan yang sebenarnya oleh paman korban, Jonni. Dimana, menurut Jonni, sesuai dalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP) penyidik Polres Langkat tahun 2014 lalu, pihak penyidik sudah berulangkali melayangkan surat panggilan kepada Ibu terdakwa, bernama Ani.

Namun, baik Ani maupun para pelaku penculikan lain, yang saat ini masih ada yang berstatus dalam Daftar Pencarian Orang (DPO) pihak penyidik, tidak pernah dihadirkan oleh JPU ke persidangan.

Begitu juga dengan mobil yang digunakan terdakwa untuk menculik korban Andi Kesuma alias Asia pada saat kejadian berusia 27 tahun, yang terjadi pada, Sabtu 08 Nopember 2014 lalu, sekira pukul 05.00 WIB di Jalan Umum depan BRI, Jln.Pemuda, Kel.Pekan Tanjung Pura, Kec.Tanjung Pura, sudah tidak tampak lagi.

“Bukan hanya itu, sejak kasus yang ditangani penyidik Polres Langkat berdasarkan Surat Laporan Polis Nomor : LP/692/XI/2014/SU/Lkt, tanggal 08 November 2014, tetang perkara tindak pidana kejahatan terhadap kemerdekaan orang dan pemaksaan dan atau mengancam sebagaimana dimaksud dalam Pasal 333 ayat (1) subsider Pasal #55 ayat (1) KUHPidana, melimpahkan berkasnya ke JPU Kejaksaan Negeri (Kejari) Langkat, mulai terlihat adanya kejanggalan,” jelas Jonii.

Dalam beberapa kali persidangan, masih kata Jonni, ada beberapa materi dan pasal yang tertuang dalam berkas dakwaan, berbeda dengan hasil Berita Acara Penyidikan (BAP) dari pihak penyidik (kepolisian) yang sudah disusun JPU Kejari Stabat, selalu berubah-ubah (sumir).

“Bayangkan, kalau menurut BAP dari penyidik kepolisian Polres Langkat, terdakwa dikenakan Pasal 333, subider Pasal 328 subsider Pasal 335, namun dalam beberapa kali persidangan pasal-pasal tersebut tidak pernah ditekankan oleh JPU dan anggota Majelis Hakim, Esy Siong, SH,M.Hum.

Dalam persidangan pertama dan ke empat, JPU malah menghilangkan Pasal 333 dan 328 menjadi pasal 335 dan mengganti pasal lainnya menjadi Pasal 484 tentang perbuatan tidak menyenangkan. Memang JPU tidak merubah pasal dalam isi dakwaan, namun jaksa dan hakim Edy Siong, selalu menguatkan pasal 484,” ujar Jonni, yang didampingi, Ardiansyah (LSM Bara Api), Hasan dan Denny, kepada METRO LANGKAT, di Stabat, Selasa (30/8), siang, usai menyaksikan persidangan kasus tersebut di PN Stabat.


Sementara itu, Sekjend DPD Komite Wartawan Reformasi Indonesia (KWRI) Prov.Sumut, Abednego Panjaitan SH, yang hadir di Kantor Redaksi Metro Langkat, Jln.Jend.Sudirman, Kel.Perdamaian, Kab.Langkat, mengharapkan media ini hendaknya memberitakan persidangan kasus tersebut harus berimbang dan jangan dicampur adukkan dengan opini penulisnya.


“Biarlah proses hukumnya tetap berjalan, tanpa ada tekanan atau opini publik dari media berdasarkan keterangan sepihak keluarga korban. Beritakan saja bagaimana hasil persidangan,” ujarnya sembari menyerahkan lembaran Surat Permohonan Pembelaan (Pledoi) dari terdakwa Henderi Winardi alias Ahen, Selasa (30/8).(rud)

About Author

Advertisement

Post a Comment

 
Top