yongganas ganas yongganas ganas Author
Title: MENAKAR MISTIS TALI KAFAN WASIAT LELUHUR (BAHAGIAN 8/HABIS)   Pengalaman hidup ta
Author: yongganas ganas
Rating 5 of 5 Des:
MENAKAR MISTIS TALI KAFAN WASIAT LELUHUR (BAHAGIAN 8/HABIS)  News Metrolangkatbinjai. com Pengalaman hidup tak pernah terlupakan ole...



MENAKAR MISTIS TALI KAFAN WASIAT LELUHUR (BAHAGIAN 8/HABIS)

 News Metrolangkatbinjai. com


Pengalaman hidup tak pernah terlupakan oleh Roman hingga akhir hayat. Semua iktibar sebelumnya sengaja diserahkan padanya benar-benar memberikan banyak arti serta kemampuan tiada bandingannya.

Meski cara-caranya berbeda-beda, namun dalam kenyataannya selama ini dirasakannya. Banyak membantu pada sesame, mashlah ummat sengaja diwasiatkan mak olot padanya benar-benar dipegang dengan kuat bersama tali ajaran agama dipeluknya.

 Roman hidup normal banyak mengutamakan rendah hati, meski kejadian-kejadian aneh itu tetap menghampirinya dengan tak sengaja.



Begitu banyak kejadian aneh serta nyeleneh dibawanya pasca diserahkannya tali kafan mayat milik mak olot sendiri itu cukup banyak memberikan banyak kemampuan karenanya.

Roman kerap dibanjiri banyak tamu-tamu dari berbagai kalangan terus menggeluti pemberian serta penyerahan pengetahuan sengaja diwaraiskan padanya berasala dari negeri al Bantani sebelumnya itu.

Mak Olot julukan akrab anak cucu serta keturunannya tetap mengenang kisah almarhumah semasa hidupnya dijadikan patokan serta acuan dalam konteks pengetahuan berasal dari negeri kelahirannya.

Tali kafan wasiat itu, akrab serta dekat juga banyak memberikan kemampuan diluar nalar. Khodam suci sengaja menungguinya bergaul akrab dengannya. Meski banyak keganjilan tetap dirasakannya dalam waktu berbeda-beda. Roman tetap bersikeras melanjutkan amanah diserah dengan sengaja padanya.

Melakukan pola mkedekatan serta anuran agama hal palingutama dalam hidupnya pasca diserahkannya semua benda-benda milik makmolot sebelum kematiannya.

Menutup kisah ini, sang cucu (Roman.red) telah banyak menggunakan serta memanfaatkan ihwal pengetahuan sengaja diwariskan padanya terus diikuti saudara kandung lainnya. Kesibukannya menerima banyak kemunculan para pengguna jasanya dalam supranaturalpun tak dapat dibendung.



“ Mensyukuri semua nikmat itu, memelihara kedekatan serta melaksanakan ajaran serta anjuran agama hal penting tak pernah terlupakan. Mendengarkan semua pesan serta ritual-ritual pernah diserahkan mak molot sebelumnya memang luar biasa jika memang tetap menyandarkannya apada qalam” aku Roman meneruskan amanah sengaja diserah padanya.

“ Tanpa sesaji ataupun ritual menggunakan banyak kembang serta asap-asapan. Mak Olot tetap memberatkan iktibar selama ini menyandar kuat pada sisi Qalamullah sengaja diwaraiskan dari moyangnya terdahulu.

“ Akrab meski memasuki dunia dimensi tanpa batas, tanpa harus menggadaikan aqidah sejak lahir mengimaninya. Kewajiban-kewajiban dihantarkan ajaran agama tetap dipegang sekuat mungkin dalam menjawabnya. Laku bathin atau komunikasi gaib tetap terjaga dan terbina bersama makhluk-makhluk Allah lainnya dialam dunia dilestarikan dengan cara santun dan beradab.

“ Sasmita gaib itu tak pernah berhenti, tetap menyerahkan  kemungkina diluar nalar, malahan banyak kejadian-kejadian dilakukan dengan membaca kedekatan dengan alam terus dijaga sepenuhnya dengan ikhlas.” Pungkasnya mensyukuri soal itu. Bisikan-bisikannya tetap mengedepankan ajaran, malah banyak menyerukan soal kedekatan bersama sang Pencipta.

Telah banyak bukti soal itu ??” aku Roman mengemukakan hal klenik pernah dialaminya. “ Usai bulan suci Ramadhan beberapa tahun lalu, makolot sebelumnya memerintahkan untuk tidak mengabaikan menjemput bekas air wudhuk sholat Idul Fitri setahun sekali.

 “ Justru karena jarang dilakukan, mak molot berkali-kali mengutarakan soal menampung bekas air wudhuk dalam sholat idul fitri jangan dilupakan” pesan Mak Olot begitu pentingnya dikhabarkan pada anak keturunannya.



“ Dipenghujung bulan suci Ramadhan itu, anjurannya menjemput atau menyengajakan diri untuk menampung air wudhuk berkali-kali diutarakannya dengan nada suara terbata-bata “ kenang Roman mengenang kisah itu kembali. “

Hencuk ulah pohok nyah…?!”  (Cucu jangan lupa ya.red) titah menampung air wudhuk disaat jelang sholat Idul Fitri. “ Usai suara gema takbir berkumandang disepanjang malam hingga pagi buta, melaksanakan titaj mak olot menampung air wudhuk sengaja diangkatkan menjemput sholat Idul Fitri setahun sekali.

 Sengaja meletakkan dalam media baskom bertutup, air wudhuk itu tetap dibiarkan dalam kemasan belum mengetahui makna dibalik titah mak olot sebelumnya. Turun sholat idul fitri, bergegas kembali pulang kerumah, kebiasaan ummat Islam bersiltarrahmi serta saling bermaafan.

Menikmati panganan khas, ketupat ditumpangi rending serta aneka makanan tersaji dipersiapkan emak atau ambuk menjemput hari lebaran. Duduk akrab menikmati bersama mak olot disampingnya. Membeberkan semua makna dibalik ditampungnya air bekas wudhuk sholat idul fitri memiliki banyak manfaat dialam dunia.

“ Salah satunya, makna itu dikhabarkannya dengan antang walau dalam keadaan sakit keras, makmolot menyegerakan membuka tabir dibalim tampungan secara sengaja dilakukan anak adam mempunyai maksud tersurat dan tersirat masih diselimuti misteri didalamnya.

“ Jika telah dilaksanakan, segera simpan dan taruh dilokasi lebih tinggi” ujar mak olot masih dengan suara setengah berbisik.  “ Air wudhuk itu, dapat dimanfaatkan dalam terapan pengobatan sakit ta’un atau polong biasanya susah disembuhkan itu “ pesan Mak Olot melanjutkan urusan pengobatan walau dalam keadaan sakit  parah. “ Lamun urang kudu hati-hati ??” (Tapi kita harus hati-hati.red) “ Pasalnya banyak penderita sakit itu kebanyakan wanita serta cantik-cantik”pesannya sambil tersenyum mengarahkannya pada wajah semua anak cucunya masih duduk disampingnya.



“ Jangan kecewakan orang lain jika sudah mendatangi diri, pertahankan amanah sebesar mungkin. “ Jaga ketetapan hati, air wudhuk itu juga wajib ditambahkan dengan sedikit garam didalamya “ ujar makmolot setengah parau nada suaranya mengabarkan soal itu menggantung.

Meminta dirinya untuk diangkat bersandar disisi tempat tidurnya, mak olot melanjutkan makna air sengaja diturunkan dari langit. “ Eta hadist ti Rosul, engges diriwayatken ti Abdullah bin Umar “ Sesungguhnya Allah menurunkan empat perkara berkah dari langit” ujarnya meminta disuguhkan air putih hangat dalam melanjutkannya perlahan-lahan.

 “ Aya ngaranak wesi, (ada namanya besi.red) ada namanya api, air juga garam” pungkasnya sambil memandangi semua raut wajah cucu-cucunya. “Iyek hadist ogeh hencuk ….??” (Ini juga hadist cucu.red) ti Anas bin Malik “ Penghulu lauk pauk kamu ialah garam, tiada baik makanan itu melainkan dengan garam” ujarnya menirukan perkataan mak olot.

Menunggu penjelesan selanjutnya, mak molot dengan suara terbata-bata meneteskan air mata dari kedua pipinya mengalir turun kencang. Suasana lebaran masihb dirasakan begitu indah serta nikmat usai melakukan perintah berpuasa selama satu bulan penuh.

Mak Olot meminta dirinya digeletakan kembali, sambil terbaring meneruskan tambahan makna air wudhuk sengaja ditampung disaat waktu kefitirian terus disambungnya.



Menyerahkan pandangan sengaja diserahkan almarhum ayah kandungnya semasa di negeri Banten dulu. Mak Olot dengan sengaja membeberkan soal lainnya terkait makna air hujan atau garam sengaja diturunkan dimuka bumi. “ Saran nu dikabarken kanjeng Rosul, memakana secubit garam pada awal serta akhir setiap kali menikmati makan.

“ Sipa yang memulakan makan dan minum dengn secubit garam Allah akan dihindarkan 330 jenis penyakit, diantaranya gila, kusta, sakit gigi akut, yang rahasianya itu diketahui hanya oleh Allah saja” tiru Roman menguraikan soal itu. Masih suasana kefitrian menyelimuti  keluarga.

Bertahan menunggu amalan lainnya sengaja dubeberkan mak olot belum terbuka. “ Kunci kemakbulan dalam urusan memanjatkan hajat serta bermunajat hanya pada-Nya dalam urusan penyembuhan bakalan dilakukan setelahnya. Roman dengan sabar duduk disisi kiri bahagian kepala mak molot mendengarkan satu persatu iktibar sengaja diwasiatkan dan diwariskan untuknya.

Tak berapa lama berselang, makm olot kembali menyerahkan kunci sukses dalam menjawab tantangan soal pengobatan penyakit polong sertata’un dijanjikannya. “ Hencuk…??’ Ulah pohok ngebacaken Fatehah 7 kali…?!” (Jangan lupa membacakan suratul Fatihah 7 kali.red) “ Upayakan hanya satu nafas ??” ujar mak olot serius soal itu.

“ Jatuhkan niatnya pada kalimah “ Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in, baru teruskan ayat selanjutnya” terang mak molot menunaikan janjinya dalam menjawab urusan pengobatan telah banyak diterimanya.

“ Mintalah hanya pada-Nya, tetapi smbungnya dengan suara terbata-bata. “ Jangan hanya meminta sedangkan perintah sholatnya ditinggalkan “ urainya sambil tersenyum membeberkannya santai. “ Justru menyembah-Nya baru kita meminta pada-Nya.

“ Penawar jitu dan bermanfaat jika memang dapat melakukan penamoungan aur wudhuk sholat idul fitri juga idul adha setiap kali dijumpai waktunya” terangnya menutup pengabaran soal pengobatan milik keturunannya terdahulu secara turun temurun. (Habis)








Reaksi:

About Author

Advertisement

Post a Comment

 
Top