yongganas ganas yongganas ganas Author
Title: Iwan PA Dirt SDM PT LNK Ngadap Kapolres, Ada Apa.?
Author: yongganas ganas
Rating 5 of 5 Des:
Polres Langkat Sidik Ulang Kasus Seismic : Iwan PA Dirt SDM PT LNK Ngadap Kapolres, Ada Apa.? Stabat : News Metrolangkatbinjai. Com K...


Polres Langkat Sidik Ulang Kasus Seismic :
Iwan PA Dirt SDM PT LNK Ngadap Kapolres, Ada Apa.?

Stabat : News Metrolangkatbinjai. Com

Kedatangan Iwan Perangin-angin Direktur SDM di Perkebunan PT LNK bersama Nazarudin juga petinggi diperkebunan PT LNK  Kamis (23/6) siang mengundang tanya.

Dengan mengendarai mobil mewah jenis Toyota Portuner dan Duoble Cabin, pejabat tinggi diperusahaan plat merah ini masuk menjumpai Kapolres Langkat AKBP Mulya Hakim S. Selang beberapa jam kemudiaan, atau persisnya sekitar pukul 14.00 Wib, Iwan PA beserta Nazarudin keluar meninggalkan ruangan Kapolres.

Tak diketahui apa kepentingan Iwan menjumpai orang nomor satu di jajaran Polres Langkat tersebut. Saat ditemui dipekarangan parkir depan Penjagaan Provos, Iwan engan berkomentar perihal kedatangannya. Dengan terburu- buru Iwan masuk kedalam mobilnya dan bergegas pergi.
Iwan PA Direktur SDM PT LNK saat mendatangi Polres Langkat Kamis (23/6) siang.


Kabar yang diterima News Metrolangkatbinjai. com kedatangan Iwan ke Polres Langkat diduga berkaitan kasus ganti rugi sesmic yang mendudukkan Bram Wijaya Meliala sebagai terpidana dan menetapkan M Idris Nasution Ketua SP-BUN Tingkat Perusahaan di PTPN- 2 DPO.

Selain kedua orang ini,dalam kasus tersebut nama Iwan PA selaku pejabat di PT LNK juga terseret. Saat ini kasus yang telah disidangkan oleh PN Stabat kembali dibuka oleh Polres Langkat. Kasus yang semula dibuat penggelapan dinilai banyak kejanggalan.

Apalagi bergulirnya perkara ini hingga kepengadilan dianggap telah diatur oleh oknum- oknum tertentu. “ Kita diperintah sama Kapolres untuk mengungkap kembali kasus ini, sebab menurut Kapolres ada yang janggal dalam penanganan maupun penerapan permatanya.” ujar sumber News metrolangkatbinjai.com kepada wartawan anda di Polres Langkat.

Sekedar menyegarkan ingatan,kasus ini berawal dari  M Idris yang memghubungi Bram Wijaya M selalu ketua SP- BUN PTP-N II Rayon Tenggah. Waktu itu aku ditelpon sama Idris, katanya aku diminta datang sambil membawa Stempel Serikat Pekerja.

“ Katanya bawakan juga stempel LNK, kataku untuk apa bang, sebab sama aku ngak ada, kalau ngak ada kau tempahkan saja yang baru,  suruh Idris waktu itu. Karena yang menyuruh Idris, Bram kemudian menempahkan stempel LNK tadi di Binjai, selanjutnya stempel Aspal (Asli tapi palsu) itupun dibawa ke Medan. “ Awalnya aku disuruh membawanya kekantor di Tj Morawa, tapi belakangan Idris menghubungi aku, katanya ketemuan saja di Ring road, dari Ring road aku disuruh ke Jln Kaswari-Medan.

Dijalan Kaswari tadi kami bertemu disebuah gedung mewah. Waktu itu sudah menunggu M Idris Nasution, Syamsul Rijal bersama anaknya dari PT Elnusa selaku rekanan PT  Pertamina dan Iwan selaku manager SDM. Aku kemudian diajak masuk kedalam sebuah kamar (ruangan-red), ketika itu bathinku terasa tidak enak, aku menanyakan sama Bang Idris, apa ngak salah kerjaan ini.

“ Bang apa ngak masalah nanti ini, kataku. Dengan tenang Idris bilang, kalau soal Konvensasi Seismic ini sudah tidak ada masalah lagi, sebab sudah disosialisasikan tahun 2014 lalu di Pemkab Langkat, tinggal kita lagi yang belum terima, kalau yang lain sudah semua,  jadi sudah kau tanda tangani saja disini, “ ujar Bram mengutip kalimat Idris saat itu.

“ Waktu itu aku disodori Kwitansi untuk ditandatangani dan Idris juga membubuhkan tanda tanganya.  Jumlah uang yang tertera di Kwitansi tersebut berkisar Rp.970 juta rupiah. Setelah menandatangani dan menyetempel, pihak Elnusa melalui Rijal memberikan uang tersebut yang diletak didalam 4 maf plastik transparan.

“ Aku kemudian disuruh menghitung uangnya sama Idris, kemudian dia menyuruh membawa uang sebesar Rp.600 juta, sedangkan sisanya ditingal untuk orang Elnusa. Uang Rp.600 juta tersebut kubawa dengan mobil Avanza milikku, sebelumnya Idris mengatakan menungguku dikawasan Simpang empat pondok kelapa persisnya disebuah rumah makan suop buntut.

Dilokasi ini uang tersebut dipindahkan kedalam mobil Portuner milik Idris sebesar Rp.400 juta, sedangkan Rp.200 juta diserahkan kepadaku dengan pesannya kalau yang Rp.50 juta nantinya bayarkan utang kepada rekanan. “ Aku diserahkan uang dua ratus juta, yang lima puluh juta disuruh Idris bayarkan hutang sama rekanan, jadi yang kupegang hanya Rp.150 juta, “ ujar Bram seraya mengaku merasa ditumbalkan dalam kasus ini.

Selang beberapa hari kemudian, pihak  PT LNK merasa dirugikan karena tidak menerima dana konvensasi dimaksud. Hal itu karena dana tadi telah diambil oleh Ir.M.Idris Nasution dengan cara memalsukan stempel PT LNK. Berangkat dari kerugian tersebut, PT LNK langsung membuat laporan kepihak yang berwajib. Atas laporan pengaduan itu, Polisi langsung memproses hingga menangkap dan menetapkan BW sebagai tersangka pada tanggal 18 September lalu.

Selain itu, Polisi juga telah menyita dan mengamankan barang bukti berupa dua kwitansi laporan pembayaran konpensasi ganti rugi tanah timbun lintasan RL dan SL kegiatan survey seismic 3D Garcinia masing-masing wilayah kebun LNK Wampu senilai Rp614,955,000 dan LNK wilayah Kebun Bekiun senilai Rp331,518,000.

Namun ada yang aneh saat Bram Wijaya ditahan oleh Polisi di Polsek Stabat. Barang bukti uang sebesar Rp.135 juta yang disita darinya hanya Rp.50 juta yang dimasukkan didalam berita acara pemeriksaan. Sedangkan sisanya habis dibagi-bagikan. “ Yang dimasukkan dalam BAP cuma Rp.50 juta, padahal yang disita dariku Rp.135 juta, sisanya dibagi-bagi sama bapak-bapak itulah, “ ketus Bram seraya berharap kapolres Langkat yang baru bisa memberikan rasa keadilan atas kasusnya tersebut.(red)


Reaksi:

About Author

Advertisement

Post a Comment

 
Top